Search blog.co.uk

Posts archive for: February, 2008
  • Penyakit Hati ( Kagum Diri, Merasa Pol Dewe )

    Kagum diri dapat diartikan suatu penyakit hati yang membuat seseorang merasa bahagia dengan pujian dari orang lain dan merasa diri paling baik melebihi orang lain. Faktor-faktor penyebab sikap kagum diri, diantaranya pujian yang diberikan kepada seseorang secara berlebihan dan tanpa mengindahkan tata cara yang ditetapkan syariat Islam dalam memberikan pujian kepada seseorang. Pujian tersebut mempengaruhi orang yang dipuji. Dia akan merasa mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Ini akan membuat orang yang dipuji merasa kagum pada diri sendiri. Tata cara atau etika memuji dalam syariat Islam ada tiga yaitu tidak boleh berlebihan, ditujukan untuk hal-hal yang benar dan tidak menimbulkan fitnah, yaitu membuat orang yang dipuji menjadi kagum pada dirinya sendiri. Apabila tata cara tersebut dapat dipenuhi, maka seseorang boleh memuji orang lain.

    Dari Abdurahman bin Abi Bakrah dari ayahnnya menceritakan bahwa ada seseorang memuji orang lain dihadapan Rasulullah saw. Rasulullah saw lalu bersabda, "Celaka engkau! Engkau memotong leher saudaramu." Rasulullah saw mengulangi beberapa kali perkataan tersebut. Kemudian Rasulullah saw bersabda, "Apabila engkau terpaksa harus memuji seseorang, hendaknya engkau berkata, 'Sepanjang yang aku ketahui tentang dia-dan Allah juga mengetahui tentang dia dan saya tidak dapat menyembunyikan dia dihadapan Allah-dia begini dan begitu.'"

    Faktor lainnya yang menyebabkan seseorang kagum diri yaitu orang yang kagum diri hanya memperhatikan nikmat yang didapatinya tanpa memperhatikan Dzat yang memberikannya. Ia merasa nikmat tersebut didapatnya karena kepandaiannya, bukan karena pemberian Allah swt, seperti anggapan Qarun. Allah swt menceritakan perkataan Qarun mengenai harta yang dimilikinya dalam Al Qur'an, "Qarun berkata, 'Sesungguhnnya aku diberi harta itu hanya karena ilmu yang ada padaku.'" (QS al-Qashash: 78)

    Orang yang kagum diri lupa atau pura-pura lupa bahwa segala kenikmatan yang diperolehnya semuanya hanya berasal dari Allah swt. Allah swt berfirman: Dan apa saja yang ada di langit dan di bumi, maka itu dari Allah (datangnya). (QS an-Nahl: 53) Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Lalu Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur. (QS an-Nahl: 78) Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, maka mengapa kamu berpaling (dari-Nya). (QS Fathir: 3)

    Lalai atau tidak memahami hakikat diri dapat menyebabkan seseorang menjadi kagum diri. Seseorang yang kagum diri, tidak sadar akan hakikat dirinya, bahwa dirinya berasal dari air yang hina yang keluar dari tempat keluarnya air kencing, selalu berada di dalam kekurangan sepanjang hidupnya dan akan kembali ke dalam tanah menjadi bangkai. Selain tidak memahami hakikat dirinya, seseorang juga dapat menjadi kagum diri karena dia selalu mendapatkan penghormatan yang berlebihan dari masyarakat, yang bertentangan dengan ajaran Islam. Misalnya, orang-orang berdiri cukup lama untuk menghormatinya, mencium tangan, menundukkan kepala mereka sampai berlebihan, berjalan dibelakangnya dan penghormatan yang berlebihan lainnya.

    Seseorang yang mendapatkan ketaatan yang berlebihan dari orang lain, yang lepas dari ketentuan-ketentuan Allah swt. Apapun kehendaknya selalu dipenuhi, baik kehendak tersebut baik atau buruk. Ini pada akhirnnya dapat menjadikan seseorang kagum diri. Rasulullah saw bersabda, "Wajib atas orang Muslim untuk taat (kepada pemimpinnya), suka atau tidak suka, kecuali jika ia diperintahkan untuk berbuat maksiat kepada Allah. Apabila seorang pemimpin memerintahkannya melakukan maksiat, maka dia tidak boleh mematuhinya."

    Semoga Alloh menghindarkan diri kita dari sifat ini. Amin.

  • Penyakit Hati ( Riya' & Sum'ah )

    RIYA' DAN SUM'AH

    Riya' (pamer penglihatan) dan Sum'ah (pamer pendengaran) merupakan salah satu penyakit hati yang membuat seseorang ingin memperlihatkan amalnya kepada orang lain dengan tujuan mendapatkan kehormatan, kedudukan, pujian atau hal-hal yang bersifat keduniaan dari orang lain. Jika seseorang beramal dengan tujuan untuk dilihat orang lain maka itu dinamakan riya'.

    Allah swt berfirman, "Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima, seperti orang yang menafkahkan hartanya karena pamer kepada manusia ..." (QS al-Baqarah: 264) Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah syirik kecil." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah syirik kecil itu?" Rasulullah saw menjawab, "Riya'. Allah swt berfirman, 'Apabila hamba-hamba Allah bisa saling membalas dengan amal-amal mereka pada hari kiamat, maka pergilah kamu kepada orang-orang yang pernah kamu perlihatkan amalmu di hadapan mereka ketika di dunia. Lihatlah, apakah kamu mendapatkan balasan dari mereka.'" (HR Ahmad)

    Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang bersikap riya' diantaranya, adalah lingkungan keluarga. Anak yang tumbuh di lingkungan keluarga yang suka riya' dapat mempengaruhi anak untuk berbuat riya' juga. Inilah salah satu sebab mengapa Rasulullah saw menganjurkan agar dalam memilih calon istri, sebaiknya memilih berdasarkan agamanya. Rasulullah saw bersabda, " ... Pilihlah wanita (untuk dinikahi) berdasarkan agamanya, maka kamu akan berbahagia." (HR Abu Daud dan Ibnu Majah) "Jika datang (melamar) kepadamu seseorang yang kamu sukai akhlak dan agamanya, maka nikahkanlah (terimalah) dia." (HR Tirmidzi)

    Seseorang bersikap riya' dapat juga disebabkan pengaruh dari pergaulan dengan teman-temannya yang beramal hanya untuk pamer. Oleh karena itu, dalam memilih teman, setiap muslim harus bersikap selektif dan mencari teman yang baik, yang menghormati dan mengamalkan ajaran agamanya. Seseorang yang tidak mengenal Allah swt dengan baik, dapat menyebabkan seseorang bersikap riya'. Seseorang yang mengenal Allah swt dengan baik, tentu tidak akan bersikap riya' karena dia yakin sikap riya' tidak akan memberikan manfaat apapun kepada dirinya karena dia mengetahui bahwa orang lain tidak dapat memberikan mudarat atau maslahat kepada dirinya. Seseorang bersikap riya' dapat juga karena menginginkan harta. Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa berperang karena menginginkan zakat onta, maka baginya apa yang dia niatkan." (HR an-Nasa'i dan Ahmad)

    Tanda-tanda orang yang bersikap riya' yaitu rajin dan melipatgandakan amal sholih jika mendapat pujian atau berada di antara orang banyak tetapi malas dan enggan beramal saleh jika tidak mendapat pujian atau tidak ada orang lain yang melihatnya. Termasuk orang yang riya' yaitu tidak melanggar larangan Allah swt jika berada di antara orang banyak dan melanggarnya ketika sedang sendirian. Rasulullah saw bersabda, "Sungguh saya mengetahui suatu kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan membawa amal-amal baik yang banyak, bagai salju menutupi gunung. Tetapi Allah menjadikan amal-amal tersebut seperti debu yang berterbangan. Padahal mereka itu adalah saudara-saudaramu dan kulit mereka juga seperti kulitmu. Mereka beribadah di waktu malam sebagaimana yang kamu lakukan juga. Tetapi mereka melanggar larangan-larangan Allah ketika sedang sendirian." (HR Ibnu Majah)

    Sikap riya' yang dilakukan dapat berakibat buruk bagi yang melakukannya, diantaranya ialah tertutupnya hidayah dan petunjuk Allah swt. Firman Allah, Maka tatkala mereka berpaling, Allah memalingkan hati mereka. Dan Dia tidak akan memberikan hidayah kepada kaum yang fasik. (QS as-Shaf: 5) Seseorang yang riya' - dimana ia melakukan amal saleh karena mencari keridhaan orang banyak dan mengharapkan imbalan materi ? terkadang harapan dan keinginannya tidak terwujud karena tidak sesuai dengan ketetapan dan takdir Allah. Ketika harapan dan keinginannya tidak terwujud, maka terasa sempitlah kehidupannya dan gelisahlah hatinya. Sebab, dia tidak mendapatkan ridha Allah dan tidak memperoleh hasil yang diharapkan dari orang banyak. Allah berfirman, Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit. Dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. (QS Thaha: 124)

    Sikap riya' akan menghilangkan rasa hormat dari masyarakat kepada dirinya. Hal ini karena Allah akan mencabut rasa hormat masyarakat kepada seseorang yang bersikap riya'. Allah berfirman, " ... Dan barangsiapa dihinakan Allah, maka tidak ada seorangpun yang memuliakannya ... " (QS al-Hajj: 18)

    Seseorang yang riya' akan membatalkan amal ibadahnya karena orang yang riya' orientasinya dalam beribadah adalah kepada makhluk bukan kepada Khaliq. Allah swt telah mengisyaratkan dampak buruk ini dalam firman-Nya, " ... Dan apabila mereka berdiri untuk bershalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud pamer (dengan shalatnya) dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali." (QS an-Nisa': 142) Seseorang yang menyia-nyiakan amal ibadahnya dengan melakukan riya', maka balasan yang dia peroleh di akhirat adalah siksaan yang berat. Rasulullah saw bersabda, "Orang yang pertama-tama diadili kelak di hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Ia dihadapkan ke pengadilan, lalu diajukan kepadanya nikmat-nikmat yang telah dia peroleh dan dia mengakuinya. Lalu Allah swt bertanya kepadanya, 'Apa yang telah engkau perbuat dengan nikmat itu?' Ia menjawab, 'Aku berperang di jalan-Mu hingga aku mati syahid.' Allah swt berkata, 'Engkau berdusta! Sesungguhnya engkau berperang supaya disebut pemberani dan sebutan itu telah engkau peroleh.' Kemudian ia diseret dengan muka telungkup dan dilemparkan ke neraka.

    Selanjutnya dihadapkan orang alim yang belajar dan mengajarkan ilmunya serta membaca Al-Qur'an. Diajukan kepadanya nikmat-nikmat yang telah diperolehnya dan dia mengakuinya. Lalu Allah swt bertanya kepadanya, 'Apa yang engkau perbuat dengan nikmat itu?' Ia menjawab, 'Aku belajar, mengajar dan membaca Al-Qur'an karena Engkau.' Allah swt berkata, 'Engkau berdusta! Sesungguhnya engkau belajar supaya disebut sebagai orang alim dan engkau membaca Al-Qur'an supaya disebut sebagai qari' (ahli baca) dan sebutan itu telah engkau peroleh.' Kemudian ia diseret dengan muka telungkup ke tanah dan dilemparkan ke neraka.

    Sesudah itu dihadapkan orang yang diberi kekayaan oleh Allah dengan berbagai macam harta. Diajukan kepadanya nikmat yang telah diperolehnya dan dia pun mengakuinya. Lalu Allah swt bertanya, 'Apa yang engkau perbuat dengan hartamu itu?' Ia menjawab, 'Aku tidak melewatkan satu jalan pun yang Engkau sukai seseorang menginfakkan harta di dalamnya kecuali aku melakukannya karena Engkau.' Allah swt berkata, 'Engkau berdusta! Sesunggguhnya engkau melakukan itu supaya disebut pemurah dan sebutan itu telah engkau dapatkan.' Kemudian ia diseret dengan muka telungkup ke tanah dan dilemparkan ke neraka." (HR Muslim dan Nasa'i)

    Rasulullah saw bersabda, "Kelak di hari kiamat, seseorang akan dihadapkan dan dilemparkan ke neraka. Maka berserakanlah isi perutnya keluar, lalu ia diputar-putar dengan itu seperti keledai memutari kilangan. Kemudian penduduk neraka menghampirinya dan bertanya, 'Wahai fulan, apa dosamu? Bukankah engkau suka beramar makruf nahi munkar?' Ia menjawab, 'Ya, aku memang menyuruh yang makruf, tetapi aku sendiri tidak melakukannya; aku melarang yang munkar, tetapi aku sendiri melanggarnya." (HR Muslim)

    Penyakit riya' ini dapat dihilangkan atau dihindari dengan cara yaitu selalu ingat akan dampak buruk penyakit ini bagi kehidupan di dunia dan di akhirat; Menjauhkan diri bergaul dengan orang-orang yang suka riya' dan bergaul dengan orang-orang yang benar dan ikhlas dalam beribadah; Mengenal Allah swt dengan sebenar-benarnya. Mengenal Allah swt dapat dilakukan dengan menjalani hidup di dunia ini berdasarkan Al-Qur'an dan sunah Nabi saw; Kesungguhan hati untuk menghilangkan tindakan-tindakan yang mengarah pada sikap riya'. Misalnya cinta kedudukan atau kehormatan, suka mendapat pujian dari orang lain dan sebagainya; Bekerja sama dalam segala urusan; Mengikuti adab (etika) Islam dalam pergaulan. Dengan demikian, tidak berlebihan dalam memberikan pujian kepada orang lain dan tidak meremehkan orang lain; Berlindung dan memohon pertolongan kepada Allah swt. Barangsiapa berlindung dan memohon pertolongan kepada Allah swt - dan dia berada dalam kebenaran - maka Allah swt akan memantapkan hati dan menolong hamba-Nya; Menyadari bahwa segala sesuatu di alam ini berjalan sesuai dengan takdir Allah swt. Allah swt berfirman, "Tiada sesuatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah." (QS al-Hadid: 22)

    Sesungguhnya makhluk sekuat dan sekuasa apa pun, dia tidak mampu memberi manfaat dan menolak bahaya dari dirinya atau orang lain. Allah swt berfirman, "Sesungguhnya makhluk-makhluk yang kamu seru selain Allah itu adalah hamba-hamba yang serupa dengan kamu. Maka serulah makhluk-makhluk itu dan biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu jika kamu memang orang-orang yang benar." (QS al-A'raf: 19) "Sesungguhnya mereka (Bani Israil) sekali-kali tidak akan dapat menjauhkan (menolak)-mu dari siksaan Allah.." (QS al-Jatsiah: 19)

  • Blue Without You

    My red heart is blue,
    because I'm missing you.
    Every day, I think about you,
    and I imagine how great
    every hour,
    every minute,
    and every second would be
    if you were here with me.
    Every night, when I lie in bed,
    I dream that you're beside me,
    holding me close to you.
    If you were, I'd whisper in your ear,
    how much I love you.
    Since you came into my life
    nothing has been the same.
    I've experienced love to its fullest,
    and I've tasted a beauty that never ends,
    because you're where my happiness begins.
    I'm incomplete without you, and
    I'll never stop loving you.
    You're the world to me,
    in brilliant colors.
    You're my best friend,
    a favorite song that will never end.
    And together is where we should be.
    Someday soon, I pray,
    that you'll walk through the door
    and take this heartache away.

  • Nafsu

    Nafsu. Organ rohani manusia yang memiliki pengaruh paling banyak dan paling besar di antara anggota rohani lainnya yang mengeluarkan instruksi kepada anggota jasmani untuk melakukan suatu tindakan.

    Nafsu secara etimologis berhubungan dengan asal usul "peniupan" dan sering secara silih berganti di pakai dalam literatur bahasa Arab dengan arti "jiwa kehidupan" atau "gairah dan hasrat duniawi", suatu istilah yang sangat banyak di gunakan dalam khazanah kaum sufi. Al-Gazali memeperlihatkan dua bentuk pengertian nafsu tersebut. Satu di antaranya adalan pengertian yang menggabungkan kekuatan amarah dan nafsu di dalam diri manusia. Sebenarnya kedua unsur tersebut mempunyai maksud yang baik, sebab mereka bertanggung jawab atas gejala-gejala jahat di dalam pribadi seseorang, dan sebaliknya bagian yang merusak dari amarah dan nafsu harus di tertibkan dan di batasi tindakannya. Adapun pengertian kedua dari nafsu ialah "kelembutan Ilahi". Dengan demikian nafsu dapat di pahami sebagai keadaan sesungguhnya dari wujud atau perkembangan pada suatu tingkatan tertentu dalam pribadi secara keseluruhan. Ia mengandung arti penjelasan hubungan yang sesungguhnya antara hati dan gairah tubuh, dan dalam keadaan tertentu dari kelembutan Ilahi.

    Dalam khazanah tasawuf dikenal adanya proposisi bahwa yang paling dekat denagn seseorang itu adalah dirinya sendiri, dan menginsafi diri sendiri adalah awal dari pengenalan terhadap Allah SWT, sebagai gambaran dari kesempurnaan akhlak seseorang ( man 'arafa nafsahu faqad 'arafa rabbah " barang siapa tahu dirinya maka sesungguhnya telah mengetahui Tuhannya " ). Pada sisi lain manusia itu sendiri terdiri dari dua unsur, yaitu jasmani da rohani, yang di sebut terakhir di lengkapi dengan empat organ, satu di antaranya adalah nafsu, di samping akal, qalbu, dan roh. Nafsu adalah suatu organ yang besar pengaruhnya dalam mengmengeluarkan instruksi kepada jasmani untuk berbuat durhaka atau taqwa, kekuatan yang akan di tuntut pertanggungjawabannya atas perbuatan buruk dan baik, bekerja dan berkehendak, kekuatan yang dapat menerima ajakan naluri rendah hawa nafsu.

    Dalam literur tasawuf, nafsu di kenal memiliki delapan kategori, dari kecenderungan yang paling dekat pada tindakan buruk sampe ketingkat kedekatan kepada kelembutan Ilahi.

    1.An- nafsu al-ammarat bi as-su, yaitu kekuatan pendorong naluri sejalan dengan nafsu yang cenderung kepada keburukan. Hal ini di tegaskan surah Yusuf ayat 53 ("Dan aku [Nabi Yusuf] tidak melepaskan diri dari tanggung jawab [atas kesalahan] karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh [cenderung] kepada keburukan"). Nafsu pada kategori ini belum mampu membedakan yang baik dan yang buruk, belum memperoleh tuntunan tentang manfaat dan mafsadat ( kerusakan ), semua yang bertentangan dengan keinginannya dianggap musuh, sebaliknya setiap yang sejalandengan kemauannya adalah karibnya. Dalam tindakan nyata dapat terlihat selalu khianat, enggan menerima nasihat dan saran, dan sebaliknya gembira menerima bisikan iblis dan setan yang menunjukkan jalan buruk dan terkutuk. Terhadap nafsu dalam kategori ini, Allah SWT memperingatkan agar tidak diikuti, sebab ia akan menyesatkan, dan setiap yang sesat akan mendapatkan azab yang berat ( QS. 38:26 ), bahkan mengikuti nafsu ini di gambarkan akan mengakibatkan hancurnya langit dan bumi dengan segala isinya ( QS.23:71 )
    2.Nafsu Lawwamah, yaitu nafsu yang telah mempunyai rasa insyaf dan menyesal sesudah melakukan suatu pelanggaran. Ia tidak berani melakukan pelanggaran secara terang-terangan dan tidak pula mencari secara gelap untuk melakukan sesuatu karena ia telah menyadari akibat-akibat dari perbuatannya. Namun dia belum mampu mengekang nafsu yang membawa kepada perbuatan buruk itu. Oleh karena itu, ia masih selalu dekat kepada pekerjaan yang mufsadat. Kategori nafsu ini denagn segala sifat-sifatnya oleh para sufi didasarkan pada empat firman Allah SWT, masing-masing : surah Al-Qiyamah ayat 1-2: "Aku ( Allah ) bersumpah dengan dengan hari kiamat, dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali ( dirinya sendiri ": demikian juga pada ayat 14-15: "Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri meskipun ia mengemukakan alasan-alasannya." Pada tingkat ini seseorang, jika telah selesai mengerjakan suatu pekerjaan yang buruk, menjadi insyaf dan menyesal, dan seterusnya mengharap agar kejahatannya tidak terulang lagi dan semoga dia memperoleh ampunan. Pada dirinya telah tumbuh bibit pikiran dan kesadaran, bahkan disebut bahwa nafsu inilah yang akan menghadapi perhitungan kelak pada hari kiamat.
    3.Nafsu Al-Musawalah, yaitu nafsu yang telah dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, walaupun baginya mengerjakan yang baik itu sama halnya dengan melakukan yang buruk. Ia melakukan perbuatan buruk meskipun tidak dengan terang-terangan tetapi dilakukannya dengan sembunyi-sembunyi, karena sifat malu telah ada padanya. Namun malu yang muncul itu baru merupakan malu terjadap orang lain, belum atas kesadarannya sendiri.Ia malu kalau orang lain mengetahui keburukannya atau kejahatan yang dilakukannya. Kategori ini masih berada pada posisi dekat dengan keburukan, sebab Allah SWT secara jelas melarang manusia untuk mencampuradukkan yang hak dengan yang batil ( QS.2:42 ), dan bahwa Allah SWT mengetahui apa yang dirahasiakan dan apa yang dilahirkan, dan mengetahui pula apa saja yang diusahakan hamba-hambanya ( QS.6:3; 2:7 ).
    4.Nafsu Al-Mutma'innah, yaitu nafsu yang telah mendapat tuntunan dan pemeliharaan yang baik. Ia mendatangkan ketentraman jiwa, melahirkan sikap dan perbuatan yang baik, mampu membentengi serangan kekejian dan kejahatan, dan mampu memukul mundur segala kendala dan godaan yang mengganggu ketentraman jiwa, bahkan ketenangan jasmaniah terutama dengan dzikir kepa Allah SWT. Ia berfungsi mendorong melakukan kebajikan dan mencegah berbuat kejahatan. Posisi nafsu ini secara jelas digambarkan Allah SWT dalam surah Ar-Ra'd ayat 28 dan 29: "(yaitu) orang-orang yan beriman dan hati mereka menjadi tenteram ( tatma'inn ) dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram" ( ayat 28 ). "Orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembaki yang baik" ( ayat 29 ). Nafsu di sini telah mapan dan tidak terganggu lagi oleh gairah, sehingga dapat secara khusyuk memenuhi keyakinannya.
    5. Nafsu Mulhamah, yaitu nafsu yang memperoleh ilham dari Allah SWT, dikaruniai ilmu pengetahuan.Ia telah di hiasi akhlaq mahmudah ( akhlak yang terpuji ), dan ia merupakan sumber kesabaran, ketabahan dan keuletan. Pada tingkat ini nafsu itu telah terbuka kepada berbagai petunjuk ( ilham ) dari Allah SWT. Dengan itu pula seseorang telah memiliki sifat-sifat yang menunjukkan kepribadian yang kuat, sebagaimana yang ditegaskan Allah SWT dalam surah as-Syams ayat 7-10: " dan jiwa serta penyempurnaannya ( ciptaannya ), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu ( jalan ) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya."

    6. Nafsu Radiyah. yaitu nafsu yang ridha kepada Allah SWT, yang mempunyai peran yang penting dalam mewujudkan kesejahteraan. Nafsu ini dalam realisasinya sering kali muncul dalam bentuk tindakan-tindakan, misalnya ia selalu mensyukuri nikmat Allah SWT, sebab Allah SWT menjanjikan tambahan nikmat bagi mereka yang bersyukur kepada nikmat-nikmat Allah SWT, dan sebaliknya akan di beri azab mereka yang tidak mensyukuri nikmat itu ( QS.14:7 ). Nafsu ini akan menjadikan seseorang ridha dalam melaksanakan segala perintah Allah SWT, dan secara ikhlas pula menjahui segala larangannya, secara senantiasa kanaah atau merasa cukup/ memadai pemberian Allah SWT.

    7. Nafsu Mardiyah, yaitu nafsu yang mencapai ridha Allah SWT. Keridhaan tersebut terlihat pada anugrah yang diberikan-Nya berupa senantiasa berdzikir, ikhlas, mempunyai karomah, dan memperoleh kemuliaan, sementara kemuliaan yang diberikan Allah SWT itu bersifat universal, artinya jika TUhan memuliakannya, siapa pun tidak akan bisa menghinakannya, demikian pula sebaliknya oramg yang dihinakan oleh Allah SWT, siapa pun tidak bisa memuliakannya.

    Dua nafsu tersebut terakhir, yakni nafsu radiyah dan mardiyah, oleh para sufi didasarkan pada firman Allah SWT dalam surah al-Fajr ayat 27-28 : " Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada TUhanmu dengan hati yang puas lagi di ridhai-Nya." Hamba yang di ridhai akan di masukkan kedalam surga-Nya.

    8. Nafsu Kamilah, yaitu nafsu yang telah sempurna bentuk dan dasarnya, sudah dianggap cakap untuk mengerjakan irsyad ( petunjuk ) dan menyempurnakan penghambaan kepada Allah SWT. Orangnya dapat di sebut sebagai *mursyid dan mukammil ( orang yang menyempurnakan ) atau * insan kamil, yang dalam pengalaman para sufi telah tercapai tajjali ( terbuka, tak bertabir ), asma' wa as-sifat ( nama dan sifat ), baqa'billah ( berada bersama Allah ), fana fillah ( hancur dalam Allah ), ilmunya ilmu ladunni minallah ( ilmu anugrah Allah ).

    Dengan demikian nafsu sebagai unsur rohani manusia pada tingkat tertentu dapat diarahkan kepada perbuatan baik dan pada tingkat tertentu pula manusia bisa dirongrong dan di goda hawa nafsu sehingga terseret ke lembah kehinaan. Jika telah demikian, hawa nafsu telah merajalela dan mengganas, menjerumuskan manusia ke tempat yang hina, tempat yang paling rendah, yang Allah SWT telah janjikan akan mengembalikan manusia ke tempat seperti itu.

    Demikianlah sikap Islam terhadap nafsu itu, sebagaimana di fahami para sufi yakni mengembangkan sifat baik dan memberi peringatan kepada nafsu yang buruk bahkan mengusahakan untuk tidak memanjakannya dalam menjalani latihan-latihan yang keras untuk menundukkannya. Orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya ( QS.79:40,41 ). Para pecinta akhlak dan tasawuf menyebut bahwa jihad paling besar adalah jihad melawan nafsu ( hawa nafsu ).

    cas

Footer:

The content of this website belongs to a private person, blog.co.uk is not responsible for the content of this website.