<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:default="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:admin="http://webns.net/mvcb/" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><default:channel xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:admin="http://webns.net/mvcb/" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" rdf:about="http://chandra354.blog.co.uk/"><title>Syifa &amp; Sephia</title><link>http://chandra354.blog.co.uk/</link><description></description><dc:language xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">en-UK</dc:language><admin:generatorAgent xmlns:admin="http://webns.net/mvcb/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" rdf:resource="http://www.blog.co.uk"/><sy:updatePeriod xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/">hourly</sy:updatePeriod><sy:updateFrequency xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/">8</sy:updateFrequency><sy:updateBase xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/">2000-01-01T12:00+00:00</sy:updateBase><image><title>Syifa &amp; Sephia</title><link>http://chandra354.blog.co.uk/</link><url>http://data5.blog.de/design/preview/c6/a9e04ef47b8894487520e95679c5cf_160x200.jpg</url></image><items><rdf:Seq><rdf:li rdf:resource="http://chandra354.blog.co.uk/2008/09/23/cukuplah-kematian-sebagai-nasehat-4765692/"/><rdf:li rdf:resource="http://chandra354.blog.co.uk/2008/09/04/bersyukur-pada-nikmat-allah-4679353/"/><rdf:li rdf:resource="http://chandra354.blog.co.uk/2008/06/04/sepuluh-penjagaan-dari-kejahatan-pengaru-4271748/"/><rdf:li rdf:resource="http://chandra354.blog.co.uk/2008/05/14/menahan-emosi-4170977/"/><rdf:li rdf:resource="http://chandra354.blog.co.uk/2008/04/23/true-love-4081719/"/><rdf:li rdf:resource="http://chandra354.blog.co.uk/2008/03/05/indahnya-kasih-sayang-3819225/"/><rdf:li rdf:resource="http://chandra354.blog.co.uk/2008/03/04/penyakit-hati-su-udzon-3814778/"/><rdf:li rdf:resource="http://chandra354.blog.co.uk/2008/02/29/penyakit-hati-kagum-diri-merasa-pol-dewe-3795432/"/><rdf:li rdf:resource="http://chandra354.blog.co.uk/2008/02/22/penyakit_hati_riya_aamp_sum_ah~3763116/"/><rdf:li rdf:resource="http://chandra354.blog.co.uk/2008/02/15/blue_without_you~3729794/"/><rdf:li rdf:resource="http://chandra354.blog.co.uk/2008/02/14/nafsu~3725743/"/></rdf:Seq></items></default:channel><default:item xmlns:default="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" rdf:about="http://chandra354.blog.co.uk/2008/09/23/cukuplah-kematian-sebagai-nasehat-4765692/"><default:title>Cukuplah Kematian Sebagai Nasehat</default:title><default:link>http://chandra354.blog.co.uk/2008/09/23/cukuplah-kematian-sebagai-nasehat-4765692/</default:link><dc:date xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">2008-09-23T04:31:15+02:00</dc:date><default:description>	&lt;p&gt;Cukuplah Kematian Sebagai Nasihat&lt;br&gt;
"Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitukematian!" (HR. Tirmidzi)&lt;br&gt;
Berbahagialah hamba-hamba Allah yang senantiasa bercermin dari kematian.Tak ubahnya seperti guru yang baik, kematian memberikan banyak pelajaran, membingkai makna hidup, bahkan mengawasi alur kehidupan agar tak lari menyimpang.&lt;br&gt;
Nilai-nilai pelajaran yang ingin diungkapkan guru kematian begitu banyak, menarik, bahkan menenteramkan. Di antaranya adalah apa yang mungkin sering kita rasakan dan lakukan.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;1. Kematian mengingatkan bahwa waktu sangat berharga&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Tak ada sesuatu pun buat seorang mukmin yang mampu mengingatkan betapa berharganya nilai waktu selain kematian. Tak seorang pun tahu berapa lama lagi jatah waktu pentasnya di dunia ini akan berakhir. Sebagaimana tak seorang pun tahu di mana kematian akan menjemputnya. Ketika seorang manusia melalaikan nilai waktu pada hakekatnya ia sedang menggiring dirinya kepada jurang kebinasaan. Karena tak ada satu detikpun waktu terlewat melainkan ajal kian mendekat. Allah swt mengingatkan itu dalam surah Al-Anbiya ayat 1, "Telah dekat kepada manusia harimenghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaianlagi berpaling (daripadanya)."&lt;br&gt;
Ketika jatah waktu terhamburkan sia-sia, dan ajal sudah di depan mata.Tiba-tiba, lisan tergerak untuk mengatakan, "Ya Allah, mundurkan ajalku sedetik saja. Akan kugunakan itu untuk bertaubat dan mengejar ketinggalan." Tapi sayang, permohonan tinggallah permohonan. Dan,kematian akan tetap datang tanpa ada perundingan.Allah swt berfirman dalam surah Ibrahim ayat 44, "Dan berikanlahperingatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datangazab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang zalim: 'Ya Tuhan kami,beri tangguhlah kami walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kamiakan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul.."&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;2. Kematian mengingatkan bahwa kita bukan siapa-siapa&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Kalau kehidupan dunia bisa diumpamakan dengan pentas sandiwara, maka kematian adalah akhir segala peran. Apa pun dan siapa pun peran yang telah dimainkan, ketika sutradara mengatakan 'habis', usai sudah permainan. Semua kembali kepada peran yang sebenarnya.Lalu, masih kurang patutkah kita dikatakan orang gila ketika bersikerasakan tetap selamanya menjadi tokoh yang kita perankan, hingga kapan pun.&lt;br&gt;
Padahal, sandiwara sudah berakhir. Sebagus-bagusnya peran yang kita mainkan, tak akan pernah melekat selamanya. Silakan kita bangga ketika dapat peran sebagai orang kaya.Silakan kita menangis ketika berperan sebagai orang miskin yang menderita. Tapi, bangga dan menangis itu bukan untuk selamanya. Semuanya akan berakhir. Dan, peran-peran itu akan dikembalikan kepada sang sutradara untuk dimasukkan kedalam laci-laci peran.&lt;br&gt;
Teramat naif kalau ada manusia yang berbangga dan yakin bahwa dia akan menjadi orang yang kaya dan berkuasa selamanya. Pun begitu, teramat naif kalau ada manusia yang merasa akan terus menderita selamanya. Semua berawal, dan juga akan berakhir. Dan akhir itu semua adalah kematian.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;3. Kematian mengingatkan bahwa kita tak memiliki apa-apa&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Islam menggariskan bahwa tak ada satu benda pun yang boleh ikut masuk ke liang lahat kecuali kain kafan. Siapa pun dia. Kaya atau miskin. Penguasa atau rakyat jelata Semuanya akan masuk lubang kubur bersama bungkusan kain kafan. Cuma kain kafan itu. Itu pun masih bagus. Karena, kita terlahir dengan tidak membawa apa-apa.&lt;br&gt;
Cuma tubuh kecil yang telanjang. Lalu, masih layakkah kita mengatas namakan kesuksesan diri ketika kita meraih keberhasilan. Masih patutkah kita membangga-banggakan harta dengan sebutan kepemilikan. Kita datang dengan tidak membawa apa-apa dan pergi pun bersama sesuatu yang tak berharga. Ternyata, semua hanya peran. Dan pemilik sebenarnya hanya Allah. Ketika peran usai, kepemilikan pun kembali kepada Allah. Lalu, dengan keadaan seperti itu, masihkah kita menyangkal bahwa kita bukan apa-apa. Dan,bukan siapa-siapa. Kecuali, hanya hamba Allah. Setelah itu, kehidupanpun berlalu melupakan peran yang pernah kita mainkan.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;4. Kematian mengingatkan bahwa hidup sementara&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Kejayaan dan kesuksesan kadang menghanyutkan anak manusia kepada sebuah khayalan bahwa ia akan hidup selamanya. Hingga kapan pun. Seolah ia ingin menyatakan kepada dunia bahwa tak satu pun yang mampu memisahkan antara dirinya dengan kenikmatan saat ini. Ketika sapaan kematian mulai datang berupa rambut yang beruban, tenaga yang kian berkurang, wajah yang makin keriput, barulah ia tersadar.Bahwa, segalanya akan berpisah. Dan pemisah kenikmatan itu bernama kematian. Hidup tak jauh dari siklus: awal, berkembang, dan kemudian berakhir.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;5. Kematian mengingatkan bahwa hidup begitu berharga&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Seorang hamba Allah yang mengingat kematian akan senantiasa tersadar bahwa hidup teramat berharga. Hidup tak ubahnya seperti ladang pinjaman.Seorang petani yang cerdas akan memanfaatkan ladang itu dengan menanam tumbuhan yang berharga. Dengan sungguh-sungguh. Petani itu khawatir, ia tidak mendapat apa-apa ketika ladang harus dikembalikan.&lt;br&gt;
"Ad-Dun-ya mazra'atul lil akhirah." (Dunia adalah ladang buat akhirat)&lt;br&gt;
Orang yang mencintai sesuatu takkan melewatkan sedetik pun waktunya untuk mengingat sesuatu itu. Termasuk, ketika kematian menjadi sesuatu yang paling diingat. Dengan memaknai kematian, berarti kita sedang menghargai arti kehidupan.&lt;br&gt;
------------------------------&lt;br&gt;
semoga bermanfaat...
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt; &lt;small&gt; &lt;a href="http://chandra354.blog.co.uk/2008/09/23/cukuplah-kematian-sebagai-nasehat-4765692/#comments"&gt;Comments&lt;/a&gt; &lt;/small&gt; &lt;/p&gt;</default:description><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[	<p>Cukuplah Kematian Sebagai Nasihat<br>
"Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitukematian!" (HR. Tirmidzi)<br>
Berbahagialah hamba-hamba Allah yang senantiasa bercermin dari kematian.Tak ubahnya seperti guru yang baik, kematian memberikan banyak pelajaran, membingkai makna hidup, bahkan mengawasi alur kehidupan agar tak lari menyimpang.<br>
Nilai-nilai pelajaran yang ingin diungkapkan guru kematian begitu banyak, menarik, bahkan menenteramkan. Di antaranya adalah apa yang mungkin sering kita rasakan dan lakukan.</p>
	<p>1. Kematian mengingatkan bahwa waktu sangat berharga</p>
	<p>Tak ada sesuatu pun buat seorang mukmin yang mampu mengingatkan betapa berharganya nilai waktu selain kematian. Tak seorang pun tahu berapa lama lagi jatah waktu pentasnya di dunia ini akan berakhir. Sebagaimana tak seorang pun tahu di mana kematian akan menjemputnya. Ketika seorang manusia melalaikan nilai waktu pada hakekatnya ia sedang menggiring dirinya kepada jurang kebinasaan. Karena tak ada satu detikpun waktu terlewat melainkan ajal kian mendekat. Allah swt mengingatkan itu dalam surah Al-Anbiya ayat 1, "Telah dekat kepada manusia harimenghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaianlagi berpaling (daripadanya)."<br>
Ketika jatah waktu terhamburkan sia-sia, dan ajal sudah di depan mata.Tiba-tiba, lisan tergerak untuk mengatakan, "Ya Allah, mundurkan ajalku sedetik saja. Akan kugunakan itu untuk bertaubat dan mengejar ketinggalan." Tapi sayang, permohonan tinggallah permohonan. Dan,kematian akan tetap datang tanpa ada perundingan.Allah swt berfirman dalam surah Ibrahim ayat 44, "Dan berikanlahperingatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datangazab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang zalim: 'Ya Tuhan kami,beri tangguhlah kami walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kamiakan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul.."</p>
	<p>2. Kematian mengingatkan bahwa kita bukan siapa-siapa</p>
	<p>Kalau kehidupan dunia bisa diumpamakan dengan pentas sandiwara, maka kematian adalah akhir segala peran. Apa pun dan siapa pun peran yang telah dimainkan, ketika sutradara mengatakan 'habis', usai sudah permainan. Semua kembali kepada peran yang sebenarnya.Lalu, masih kurang patutkah kita dikatakan orang gila ketika bersikerasakan tetap selamanya menjadi tokoh yang kita perankan, hingga kapan pun.<br>
Padahal, sandiwara sudah berakhir. Sebagus-bagusnya peran yang kita mainkan, tak akan pernah melekat selamanya. Silakan kita bangga ketika dapat peran sebagai orang kaya.Silakan kita menangis ketika berperan sebagai orang miskin yang menderita. Tapi, bangga dan menangis itu bukan untuk selamanya. Semuanya akan berakhir. Dan, peran-peran itu akan dikembalikan kepada sang sutradara untuk dimasukkan kedalam laci-laci peran.<br>
Teramat naif kalau ada manusia yang berbangga dan yakin bahwa dia akan menjadi orang yang kaya dan berkuasa selamanya. Pun begitu, teramat naif kalau ada manusia yang merasa akan terus menderita selamanya. Semua berawal, dan juga akan berakhir. Dan akhir itu semua adalah kematian.</p>
	<p>3. Kematian mengingatkan bahwa kita tak memiliki apa-apa</p>
	<p>Islam menggariskan bahwa tak ada satu benda pun yang boleh ikut masuk ke liang lahat kecuali kain kafan. Siapa pun dia. Kaya atau miskin. Penguasa atau rakyat jelata Semuanya akan masuk lubang kubur bersama bungkusan kain kafan. Cuma kain kafan itu. Itu pun masih bagus. Karena, kita terlahir dengan tidak membawa apa-apa.<br>
Cuma tubuh kecil yang telanjang. Lalu, masih layakkah kita mengatas namakan kesuksesan diri ketika kita meraih keberhasilan. Masih patutkah kita membangga-banggakan harta dengan sebutan kepemilikan. Kita datang dengan tidak membawa apa-apa dan pergi pun bersama sesuatu yang tak berharga. Ternyata, semua hanya peran. Dan pemilik sebenarnya hanya Allah. Ketika peran usai, kepemilikan pun kembali kepada Allah. Lalu, dengan keadaan seperti itu, masihkah kita menyangkal bahwa kita bukan apa-apa. Dan,bukan siapa-siapa. Kecuali, hanya hamba Allah. Setelah itu, kehidupanpun berlalu melupakan peran yang pernah kita mainkan.</p>
	<p>4. Kematian mengingatkan bahwa hidup sementara</p>
	<p>Kejayaan dan kesuksesan kadang menghanyutkan anak manusia kepada sebuah khayalan bahwa ia akan hidup selamanya. Hingga kapan pun. Seolah ia ingin menyatakan kepada dunia bahwa tak satu pun yang mampu memisahkan antara dirinya dengan kenikmatan saat ini. Ketika sapaan kematian mulai datang berupa rambut yang beruban, tenaga yang kian berkurang, wajah yang makin keriput, barulah ia tersadar.Bahwa, segalanya akan berpisah. Dan pemisah kenikmatan itu bernama kematian. Hidup tak jauh dari siklus: awal, berkembang, dan kemudian berakhir.</p>
	<p>5. Kematian mengingatkan bahwa hidup begitu berharga</p>
	<p>Seorang hamba Allah yang mengingat kematian akan senantiasa tersadar bahwa hidup teramat berharga. Hidup tak ubahnya seperti ladang pinjaman.Seorang petani yang cerdas akan memanfaatkan ladang itu dengan menanam tumbuhan yang berharga. Dengan sungguh-sungguh. Petani itu khawatir, ia tidak mendapat apa-apa ketika ladang harus dikembalikan.<br>
"Ad-Dun-ya mazra'atul lil akhirah." (Dunia adalah ladang buat akhirat)<br>
Orang yang mencintai sesuatu takkan melewatkan sedetik pun waktunya untuk mengingat sesuatu itu. Termasuk, ketika kematian menjadi sesuatu yang paling diingat. Dengan memaknai kematian, berarti kita sedang menghargai arti kehidupan.<br>
------------------------------<br>
semoga bermanfaat...
</p>
<p> <small> <a href="http://chandra354.blog.co.uk/2008/09/23/cukuplah-kematian-sebagai-nasehat-4765692/#comments">Comments</a> </small> </p>]]></content:encoded></default:item><default:item xmlns:default="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" rdf:about="http://chandra354.blog.co.uk/2008/09/04/bersyukur-pada-nikmat-allah-4679353/"><default:title>Bersyukur pada nikmat Allah</default:title><default:link>http://chandra354.blog.co.uk/2008/09/04/bersyukur-pada-nikmat-allah-4679353/</default:link><dc:date xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">2008-09-04T05:26:48+02:00</dc:date><default:description>	&lt;p&gt;Nikmatnya Bersyukur&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Terkadang kita jarang memperhatikan atau bahkan lupa dengan apa yang telah kita nikmati selama ini. Mulai dari membuka mata sampai menutupnya kembali.&lt;br&gt;
Seandainya kita bertafakur, ternyata banyak sekali nikmat yang kita peroleh mulai dari nikmat membuka mata, melihat, makan, mengedipkan mata bahkan menutup mata untuk beristirahat agar bisa beraktifitas keesokan harinya adalah sekumpulan nikmat yang tak terhitung jumlahnya.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Apakah kita pernah bertanya kepada hati kecil kita sendiri, darimanakah semua nikmat itu berasal?, jawabannya tentu kita semua tahu, itu semua berasal dari dzat yang maha agung Alloh SWT. Dia-lah yang memberikan kenikmatan itu semua. Lalu apa yang kita korbankan untuk semua itu? Alloh tidak meminta apapun dari umatnya, Dia hanya meminta untuk bersyukur atas segala yang telah diberikannya.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Sudahkah kita bersyukur? Jawabannya hanya ada pada hati kecil masing-masing umat manusia.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Terkadang kita sering mengeluh ketika bangun tidur tidak ada teh atau kopi disamping meja tempat tidur, padahal diberi kesempatan untuk membuka kedua mata kembali, itu sudah luar biasa nikmatnya. Bandingkan dengan orang yang tidak mempunyai mata, jangankan membuka mata, melihatpun mereka tidak mampu.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Orang bijak mengatakan jika kita ingin bersyukur kita harus melihat kebawah, melihat orang-orang yang hidupnya tidak seberuntung kita saat ini. Ketika kita makan coba lihat para pengemis jalanan yang tak tentu kapan jam makannya. Ketika dipagi hari tatkala melihat sepatu kita yang sudah rusak, coba perhatikan orang-orang cacat yang tidak mempunyai kedua kaki. Kita masih beruntung bisa menggunakan sepasang sepatu, sedangkan mereka kakinyapun tidak punya. Alangkah beruntungnya kita.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Wahai sahabat..! alangkah nikmatnya hidup dalam rangkaian syukur, hidup menjadi nyaman, tentram. Jangan isi masa hidup ini dengan mengeluh, karena sedetikpun kita gunakan untuk mengeluh, berarti detik itu pula yang akan menggerogoti nikmatnya hidup ini. Gunakan waktu yang sedikit ini untuk bersyukur..!!!
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt; &lt;small&gt; &lt;a href="http://chandra354.blog.co.uk/2008/09/04/bersyukur-pada-nikmat-allah-4679353/#comments"&gt;Comments&lt;/a&gt; &lt;/small&gt; &lt;/p&gt;</default:description><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[	<p>Nikmatnya Bersyukur</p>
	<p>Terkadang kita jarang memperhatikan atau bahkan lupa dengan apa yang telah kita nikmati selama ini. Mulai dari membuka mata sampai menutupnya kembali.<br>
Seandainya kita bertafakur, ternyata banyak sekali nikmat yang kita peroleh mulai dari nikmat membuka mata, melihat, makan, mengedipkan mata bahkan menutup mata untuk beristirahat agar bisa beraktifitas keesokan harinya adalah sekumpulan nikmat yang tak terhitung jumlahnya.</p>
	<p>Apakah kita pernah bertanya kepada hati kecil kita sendiri, darimanakah semua nikmat itu berasal?, jawabannya tentu kita semua tahu, itu semua berasal dari dzat yang maha agung Alloh SWT. Dia-lah yang memberikan kenikmatan itu semua. Lalu apa yang kita korbankan untuk semua itu? Alloh tidak meminta apapun dari umatnya, Dia hanya meminta untuk bersyukur atas segala yang telah diberikannya.</p>
	<p>Sudahkah kita bersyukur? Jawabannya hanya ada pada hati kecil masing-masing umat manusia.</p>
	<p>Terkadang kita sering mengeluh ketika bangun tidur tidak ada teh atau kopi disamping meja tempat tidur, padahal diberi kesempatan untuk membuka kedua mata kembali, itu sudah luar biasa nikmatnya. Bandingkan dengan orang yang tidak mempunyai mata, jangankan membuka mata, melihatpun mereka tidak mampu.</p>
	<p>Orang bijak mengatakan jika kita ingin bersyukur kita harus melihat kebawah, melihat orang-orang yang hidupnya tidak seberuntung kita saat ini. Ketika kita makan coba lihat para pengemis jalanan yang tak tentu kapan jam makannya. Ketika dipagi hari tatkala melihat sepatu kita yang sudah rusak, coba perhatikan orang-orang cacat yang tidak mempunyai kedua kaki. Kita masih beruntung bisa menggunakan sepasang sepatu, sedangkan mereka kakinyapun tidak punya. Alangkah beruntungnya kita.</p>
	<p>Wahai sahabat..! alangkah nikmatnya hidup dalam rangkaian syukur, hidup menjadi nyaman, tentram. Jangan isi masa hidup ini dengan mengeluh, karena sedetikpun kita gunakan untuk mengeluh, berarti detik itu pula yang akan menggerogoti nikmatnya hidup ini. Gunakan waktu yang sedikit ini untuk bersyukur..!!!
</p>
<p> <small> <a href="http://chandra354.blog.co.uk/2008/09/04/bersyukur-pada-nikmat-allah-4679353/#comments">Comments</a> </small> </p>]]></content:encoded></default:item><default:item xmlns:default="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" rdf:about="http://chandra354.blog.co.uk/2008/06/04/sepuluh-penjagaan-dari-kejahatan-pengaru-4271748/"><default:title>SEPULUH PENJAGAAN DARI KEJAHATAN PENGARUH IBLIS, JIN DAN SYETAN</default:title><default:link>http://chandra354.blog.co.uk/2008/06/04/sepuluh-penjagaan-dari-kejahatan-pengaru-4271748/</default:link><dc:date xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">2008-06-04T14:12:47+02:00</dc:date><default:description>	&lt;p&gt;SEPULUH PENJAGAAN DARI KEJAHATAN PENGARUH IBLIS, JIN DAN SYETAN&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;1. Membaca ta’awudz ( أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم ) .&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Alloh berfirman :&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّههُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيْمُ * سورة فصلت 36&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;“Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan maka berlindunglah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Imam Bukhori meriwayatkan ada dua orang bertengkar di dekat Nabi sampai merah mukanya &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;dan membesar urat-urat lehernya, maka Nabi bersabda : sesungguhnya aku mengerti satu kalimat kalau dia mengucapkannya maka hilang marahnya,&lt;br&gt;
jika dia mau mengucapkan اعوذ بالله من الشيطان niscaya hilang apa-apa yang iatemui ( marahnya ). (HR. Bukhori juz III hal. 1195)&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;2. Membaca surat mu’awwidzatain.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;عَنْ أَبِى سَعِيدٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَيَتَعَوَّذُ مِنَ الْجَانِ وَعَيْنِ اْلإِنْسَانِ حَتَّى نَزَلَتِالْمُعَوِّذَتَانِ فَلَمَّا نَزَلَتَا أَخَذَ بِهِمَا وَتَرَكَ مَاسِوَا هُمَا* رواه الترمذى&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;“Dari Abu Said dia berkata adalah Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallamitu mohon perlindungan kepada Alloh dari jin dan sawanan mata manusia hingga turun سورة الفلق dan سورة الناس ,&lt;br&gt;
ketika keduanya telah turun maka beliau mengambil dua surat tersebut dan meninggalkan yang lainnya.”&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;3. Membaca ayat kursi&lt;br&gt;
Imam Bukhori meriwayatkan : berkata Abu Huroiroh : dia (syetan) berkatakepadaku :&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;إِذَا أَوَيْتَ إِلىَ فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ أيَةَ اْلكُرْسِىِّ مِنْ أَوَّلِهَاحَتَّى تَخْتِمَ : اللهُ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَقَالَلىِ : لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللهِ حَافِظٌ وَلاَ يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌحَتَّى تُصْبِحَ وَكَانُوْا أَحْرَصَ شَيْئٍ عَلىَ الْخَيْرِ فَقَالَالنَّبِيٌّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَوَهُوَ كَذُوبٌ. تَعْلَمُ مَنْ تُخَاطِبُ مُنْذُ ثَلاَثَ لَيَالٍ يَا أَبَاهُرَيْرَةَ قَالَ لاَ قَالَ ذاَكَ شَيْطَانٌ رواه البخاري&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;“Jika engkau mengungsi ke tempat tidurmu maka bacalah ayat kursi dari awal sampai selesai yaitu :الله لاَ إِلهَ اِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ ,&lt;br&gt;
dia (syetan) berkata kepadaku : tidak henti-hentinya engkau mendapat penjagaan dari Alloh dan syetan tidak berani mendekat kepadamu sampai shubuh.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Adalah para shohabat itu paling berkeinginan kepada (mempelajari) kebaikan&lt;br&gt;
maka Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : sesungguhnya dia telah benar kepadamu walaupun dia pendusta.&lt;br&gt;
Wahai Abu Hurairoh tahukah kamu, orang yang kamu ajak bicara sejak tiga malam?&lt;br&gt;
Abu Huroiroh berkata : tidak.Maka beliau bersabda : dia itu syetan.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;”4. Membaca surat Al-Baqoroh.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;لاَ تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَاْلبَيْتِ الَّذِى تُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ * رواه مسلم&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;“Jangan kalian jadikan rumah kalian menjadi kuburan (tidak pernah dibacakan Qur`an di dalamnya), sesungguhnya syetan itu lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al-Baqoroh.”&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;5. Membaca akhir surat Al-Baqoroh.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;إِنَّ الله كَتَبَ كِتَابًا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ الْخَلْقَ بِأَلْفَيْ عَامٍأَنْزَلَ مِنْهُ أيَتَيْنِ خَتَمَ بِهِمَا سُوْرَةَ الْبَقَرَةِ فَلاَيُقْرَءاَنِ فىِ دَارٍ ثَلاَثَ لَيَالٍ فَيَقْرَبُهَا شَيْطَانٌ * رواه الترمذى&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;“Sesungguhnya Alloh menulis kitab dua tahun sebelum Alloh menciptakan makhluk, Alloh menurunkan dari padanya dua ayat yang Alloh menutup dengan kedua ayat tersebut pada surat Al-Baqoroh, maka tidak dibaca dua ayat itu dalam rumah selama tiga hari kecuali syetan tidak berani mendekatnya.”&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;6. Membaca awalnya surat Al-mu`min sampai dengan ayat ( إِلَيْهِالْمَصِيرِ) bersama ayat kursi.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;مَنْ قَرَأَ حمٍ اْلمُؤْمِنَ إِلىَ قَوْلِهِ ( إِلَيْهِ اْلمَصِيْرُ ) وَأيَةَالْكُرْسِىِّ حِيْنَ يُصْبِحُ حُفِظَ بِهِمَا حَتَّى يُمْسِيَ وَمَنْقَرَأَهُمَا حِيْنَ يُمْسِى حُفِظَ بِهِمَا حَتَّى يُصْبِحَ * رواه الترمذى&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;“Barang siapa membaca حم المؤمن sampai firman Alloh إِلَيْهِالْمَصِيْرَ dan ayat kursi di waktu shubuh maka dia dijaga sebab membaca dua surat tersebut hingga sore, dan barang siapa membaca keduanya di waktu sore maka dijaga sebab membaca keduanya hingga shubuh.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;”7. Membaca seratus kali :&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَلَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَئٍ قَدِيْرٌ&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;مَنْ قَالَ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُوَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى&lt;br&gt;
كُلِّ شَئٍ قَدِيْرٌ فِى يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍكَانَتْ لَهُ عِدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍوَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِيَوْمَهُذَلِكَحَتَّى يُمْسِيَ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَبِهِ إِلاَّ أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ * رواه البخاري&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;“Barang siapa yang membaca: لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُلَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَئٍ قَدِيْرٌseratus kali dalam sehari, maka membandingi memerdekakan sepuluh budak danditulis baginya seratus kebaikan dan dihapus dari padanya seratus kesalahandan bacaan itu baginya sebagai penjagaan dari syetan hari itu sampai soredan tidak datang seorang pun dengan yang lebih utama dari apa yang diadatang dengannya kecuali seorang yang mengamalkan lebih banyak dari itu.”&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;8. Memperbanyak dzikir kepada Alloh ‘Azza wajalla.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda menceritakan perintah Alloh kepada Nabi Yahya bin Zakariya yang antara lain beliau menyuruh umatnya dengan sabdanya :&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;وَأمُرُكُمْ أَنْ تَذْكُرُوْا اللهَ تَعَالىَ وَإِنَّ مِثْلَ ذَلِكَ كَمِثْلِرَجُلٍ خَرَجَ الْعَدُوُّ فىِ أَثَرِهِ سِرَاعًا حَتَّى أَتَى عَلَى حِصْنٍحَصِيْنٍ فَأَحْرَصَ نَفْسَهُ مِنْهُمْ ، كَذَالِكَ الْعَبْدُ لاَيَحْرُزُنَفْسَهُ مِنَ الشَّيْطَانِ إِلاَّ بِذِكْرِ اللهِ تَعَالىَ * رواه الترمذى فىأكام المرجان&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;“Dan aku ( Yahya bin Zakariya) menyuruh kalian (kaumku) untuk berdzikirkepada Alloh Ta’ala karena perumpamaannya ialah seperti seorang laki-lakiyang keluar diikuti oleh musuh secara cepat sehingga dia datang di sebuahbenteng yang membentenginya (dari musuh) maka dia bisa menjaga dirinya dari(kejaran) mereka, begitu pula seorang hamba Alloh dia tidak bisa menjaga dirinya dari syetan kecuali dengan dzikir kepada Alloh Ta’ala.”&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;9. Wudlu dan sholat.Ini adalah sebesar-besar amalan untuk menjaga diri dari syetan. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;إِنَّ الْغَضَبَ مِنَ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ مِنَ النَّارِوَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْفَلْيَتَوَضَّأْ * رواه ابو داود فى كتاب الأدب&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;“Sesungguhnya marah itu dari syetan dan syetan itu dari api dan api itu dipadamkan dengan air maka ketika salah satu dari kamu marah maka hendaklah berwudlu.”&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;10.Menahan diri dari kelebihan pandangan, kelebihan ucapan dan makan serta pergaulan dengan manusia, karena syetan menguasai manusia itu melalui empathal ini.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;َالنَّظْرَةُ سَهْمٌ مَسْمُوْمٌ مِنْ سِهَاِم إِبْلِيسَ فَمَنْ غَضَّ بَصَرَهُللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَوْرَثَهُ اللهُ حَلاَوَةً يَجِدُهَا فىِ قَلْبِهِ إِلىَيَوْمٍ يَلْقَاهُ * رواه أحمد&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;“Pandangan mata itu adalah anak panah beracun dari beberapa anak panah Iblis, maka barang siapa menundukkan matanya karena Alloh ‘Azza wajallaAlloh memberikan kepadanya manisnya iman yang dia temui dalam hatinya sampaihari yang dia ketemu Alloh.”&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Mudah-mudahan dengan mengamalkan sepuluh penjagaan ini Alloh melindungi kita dari pengaruh Iblis, jin dan syetan .&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Mudah-mudahan Alloh paring barokah. Amin.
&lt;/p&gt;
&lt;p&gt; &lt;small&gt; &lt;a href="http://chandra354.blog.co.uk/2008/06/04/sepuluh-penjagaan-dari-kejahatan-pengaru-4271748/#comments"&gt;Comments&lt;/a&gt; &lt;/small&gt; &lt;/p&gt;</default:description><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[	<p>SEPULUH PENJAGAAN DARI KEJAHATAN PENGARUH IBLIS, JIN DAN SYETAN</p>
	<p>1. Membaca ta’awudz ( &#1571;&#1614;&#1593;&#1615;&#1608;&#1584;&#1615; &#1576;&#1616;&#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1616; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1588;&#1617;&#1614;&#1610;&#1618;&#1591;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616; &#1575;&#1604;&#1585;&#1617;&#1614;&#1580;&#1616;&#1610;&#1605; ) .</p>
	<p>Alloh berfirman :</p>
	<p>&#1608;&#1614;&#1573;&#1616;&#1605;&#1617;&#1614;&#1575; &#1610;&#1614;&#1606;&#1618;&#1586;&#1614;&#1594;&#1614;&#1606;&#1617;&#1614;&#1603;&#1614; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1588;&#1617;&#1614;&#1610;&#1618;&#1591;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616; &#1606;&#1614;&#1586;&#1618;&#1594;&#1612; &#1601;&#1614;&#1575;&#1587;&#1618;&#1578;&#1614;&#1593;&#1616;&#1584;&#1618; &#1576;&#1616;&#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1616; &#1573;&#1616;&#1606;&#1617;&#1614;&#1607;&#1607;&#1615;&#1608;&#1614; &#1575;&#1604;&#1587;&#1617;&#1614;&#1605;&#1616;&#1610;&#1593;&#1615; &#1575;&#1604;&#1618;&#1593;&#1614;&#1604;&#1616;&#1610;&#1618;&#1605;&#1615; * &#1587;&#1608;&#1585;&#1577; &#1601;&#1589;&#1604;&#1578; 36</p>
	<p>“Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan maka berlindunglah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”</p>
	<p>Imam Bukhori meriwayatkan ada dua orang bertengkar di dekat Nabi sampai merah mukanya </p>
	<p>dan membesar urat-urat lehernya, maka Nabi bersabda : sesungguhnya aku mengerti satu kalimat kalau dia mengucapkannya maka hilang marahnya,<br>
jika dia mau mengucapkan &#1575;&#1593;&#1608;&#1584; &#1576;&#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1605;&#1606; &#1575;&#1604;&#1588;&#1610;&#1591;&#1575;&#1606; niscaya hilang apa-apa yang iatemui ( marahnya ). (HR. Bukhori juz III hal. 1195)</p>
	<p>2. Membaca surat mu’awwidzatain.</p>
	<p>&#1593;&#1614;&#1606;&#1618; &#1571;&#1614;&#1576;&#1616;&#1609; &#1587;&#1614;&#1593;&#1616;&#1610;&#1583;&#1613; &#1602;&#1614;&#1575;&#1604;&#1614; &#1603;&#1614;&#1575;&#1606;&#1614; &#1585;&#1614;&#1587;&#1615;&#1608;&#1604;&#1615; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1589;&#1614;&#1604;&#1617;&#1614;&#1609; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1615; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1610;&#1618;&#1607;&#1616; &#1608;&#1614;&#1587;&#1614;&#1604;&#1617;&#1614;&#1605;&#1614;&#1610;&#1614;&#1578;&#1614;&#1593;&#1614;&#1608;&#1617;&#1614;&#1584;&#1615; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1580;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616; &#1608;&#1614;&#1593;&#1614;&#1610;&#1618;&#1606;&#1616; &#1575;&#1618;&#1604;&#1573;&#1616;&#1606;&#1618;&#1587;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616; &#1581;&#1614;&#1578;&#1617;&#1614;&#1609; &#1606;&#1614;&#1586;&#1614;&#1604;&#1614;&#1578;&#1616;&#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1615;&#1593;&#1614;&#1608;&#1617;&#1616;&#1584;&#1614;&#1578;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616; &#1601;&#1614;&#1604;&#1614;&#1605;&#1617;&#1614;&#1575; &#1606;&#1614;&#1586;&#1614;&#1604;&#1614;&#1578;&#1614;&#1575; &#1571;&#1614;&#1582;&#1614;&#1584;&#1614; &#1576;&#1616;&#1607;&#1616;&#1605;&#1614;&#1575; &#1608;&#1614;&#1578;&#1614;&#1585;&#1614;&#1603;&#1614; &#1605;&#1614;&#1575;&#1587;&#1616;&#1608;&#1614;&#1575; &#1607;&#1615;&#1605;&#1614;&#1575;* &#1585;&#1608;&#1575;&#1607; &#1575;&#1604;&#1578;&#1585;&#1605;&#1584;&#1609;</p>
	<p>“Dari Abu Said dia berkata adalah Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallamitu mohon perlindungan kepada Alloh dari jin dan sawanan mata manusia hingga turun &#1587;&#1608;&#1585;&#1577; &#1575;&#1604;&#1601;&#1604;&#1602; dan &#1587;&#1608;&#1585;&#1577; &#1575;&#1604;&#1606;&#1575;&#1587; ,<br>
ketika keduanya telah turun maka beliau mengambil dua surat tersebut dan meninggalkan yang lainnya.”</p>
	<p>3. Membaca ayat kursi<br>
Imam Bukhori meriwayatkan : berkata Abu Huroiroh : dia (syetan) berkatakepadaku :</p>
	<p>&#1573;&#1616;&#1584;&#1614;&#1575; &#1571;&#1614;&#1608;&#1614;&#1610;&#1618;&#1578;&#1614; &#1573;&#1616;&#1604;&#1609;&#1614; &#1601;&#1616;&#1585;&#1614;&#1575;&#1588;&#1616;&#1603;&#1614; &#1601;&#1614;&#1575;&#1602;&#1618;&#1585;&#1614;&#1571;&#1618; &#1571;&#1610;&#1614;&#1577;&#1614; &#1575;&#1618;&#1604;&#1603;&#1615;&#1585;&#1618;&#1587;&#1616;&#1609;&#1617;&#1616; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618; &#1571;&#1614;&#1608;&#1617;&#1614;&#1604;&#1616;&#1607;&#1614;&#1575;&#1581;&#1614;&#1578;&#1617;&#1614;&#1609; &#1578;&#1614;&#1582;&#1618;&#1578;&#1616;&#1605;&#1614; : &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1615; &#1604;&#1575;&#1614; &#1573;&#1616;&#1604;&#1607;&#1614; &#1573;&#1616;&#1604;&#1575;&#1617;&#1614; &#1607;&#1615;&#1608;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1581;&#1614;&#1610;&#1617;&#1615; &#1575;&#1604;&#1618;&#1602;&#1614;&#1610;&#1617;&#1615;&#1608;&#1618;&#1605;&#1615; &#1608;&#1614;&#1602;&#1614;&#1575;&#1604;&#1614;&#1604;&#1609;&#1616; : &#1604;&#1614;&#1606;&#1618; &#1610;&#1614;&#1586;&#1614;&#1575;&#1604;&#1614; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1610;&#1618;&#1603;&#1614; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1616; &#1581;&#1614;&#1575;&#1601;&#1616;&#1592;&#1612; &#1608;&#1614;&#1604;&#1575;&#1614; &#1610;&#1614;&#1602;&#1618;&#1585;&#1614;&#1576;&#1615;&#1603;&#1614; &#1588;&#1614;&#1610;&#1618;&#1591;&#1614;&#1575;&#1606;&#1612;&#1581;&#1614;&#1578;&#1617;&#1614;&#1609; &#1578;&#1615;&#1589;&#1618;&#1576;&#1616;&#1581;&#1614; &#1608;&#1614;&#1603;&#1614;&#1575;&#1606;&#1615;&#1608;&#1618;&#1575; &#1571;&#1614;&#1581;&#1618;&#1585;&#1614;&#1589;&#1614; &#1588;&#1614;&#1610;&#1618;&#1574;&#1613; &#1593;&#1614;&#1604;&#1609;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1582;&#1614;&#1610;&#1618;&#1585;&#1616; &#1601;&#1614;&#1602;&#1614;&#1575;&#1604;&#1614;&#1575;&#1604;&#1606;&#1617;&#1614;&#1576;&#1616;&#1610;&#1617;&#1612; &#1589;&#1614;&#1604;&#1617;&#1614;&#1609; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1615; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1610;&#1618;&#1607;&#1616; &#1608;&#1614;&#1587;&#1614;&#1604;&#1617;&#1614;&#1605;&#1614; &#1571;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575; &#1573;&#1616;&#1606;&#1617;&#1614;&#1607;&#1615; &#1602;&#1614;&#1583;&#1618; &#1589;&#1614;&#1583;&#1614;&#1602;&#1614;&#1603;&#1614;&#1608;&#1614;&#1607;&#1615;&#1608;&#1614; &#1603;&#1614;&#1584;&#1615;&#1608;&#1576;&#1612;. &#1578;&#1614;&#1593;&#1618;&#1604;&#1614;&#1605;&#1615; &#1605;&#1614;&#1606;&#1618; &#1578;&#1615;&#1582;&#1614;&#1575;&#1591;&#1616;&#1576;&#1615; &#1605;&#1615;&#1606;&#1618;&#1584;&#1615; &#1579;&#1614;&#1604;&#1575;&#1614;&#1579;&#1614; &#1604;&#1614;&#1610;&#1614;&#1575;&#1604;&#1613; &#1610;&#1614;&#1575; &#1571;&#1614;&#1576;&#1614;&#1575;&#1607;&#1615;&#1585;&#1614;&#1610;&#1618;&#1585;&#1614;&#1577;&#1614; &#1602;&#1614;&#1575;&#1604;&#1614; &#1604;&#1575;&#1614; &#1602;&#1614;&#1575;&#1604;&#1614; &#1584;&#1575;&#1614;&#1603;&#1614; &#1588;&#1614;&#1610;&#1618;&#1591;&#1614;&#1575;&#1606;&#1612; &#1585;&#1608;&#1575;&#1607; &#1575;&#1604;&#1576;&#1582;&#1575;&#1585;&#1610;</p>
	<p>“Jika engkau mengungsi ke tempat tidurmu maka bacalah ayat kursi dari awal sampai selesai yaitu :&#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1604;&#1575;&#1614; &#1573;&#1616;&#1604;&#1607;&#1614; &#1575;&#1616;&#1604;&#1575;&#1617;&#1614; &#1607;&#1615;&#1608;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1581;&#1614;&#1610;&#1617;&#1615; &#1575;&#1604;&#1618;&#1602;&#1614;&#1610;&#1617;&#1615;&#1608;&#1618;&#1605;&#1615; ,<br>
dia (syetan) berkata kepadaku : tidak henti-hentinya engkau mendapat penjagaan dari Alloh dan syetan tidak berani mendekat kepadamu sampai shubuh.</p>
	<p>Adalah para shohabat itu paling berkeinginan kepada (mempelajari) kebaikan<br>
maka Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : sesungguhnya dia telah benar kepadamu walaupun dia pendusta.<br>
Wahai Abu Hurairoh tahukah kamu, orang yang kamu ajak bicara sejak tiga malam?<br>
Abu Huroiroh berkata : tidak.Maka beliau bersabda : dia itu syetan.</p>
	<p>”4. Membaca surat Al-Baqoroh.</p>
	<p>Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :</p>
	<p>&#1604;&#1575;&#1614; &#1578;&#1614;&#1580;&#1618;&#1593;&#1614;&#1604;&#1615;&#1608;&#1618;&#1575; &#1576;&#1615;&#1610;&#1615;&#1608;&#1618;&#1578;&#1614;&#1603;&#1615;&#1605;&#1618; &#1605;&#1614;&#1602;&#1614;&#1575;&#1576;&#1616;&#1585;&#1614; &#1573;&#1616;&#1606;&#1617;&#1614; &#1575;&#1604;&#1588;&#1617;&#1614;&#1610;&#1618;&#1591;&#1614;&#1575;&#1606;&#1614; &#1610;&#1614;&#1606;&#1618;&#1601;&#1616;&#1585;&#1615; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614;&#1575;&#1618;&#1604;&#1576;&#1614;&#1610;&#1618;&#1578;&#1616; &#1575;&#1604;&#1617;&#1614;&#1584;&#1616;&#1609; &#1578;&#1615;&#1602;&#1618;&#1585;&#1614;&#1571;&#1615; &#1601;&#1616;&#1610;&#1618;&#1607;&#1616; &#1587;&#1615;&#1608;&#1618;&#1585;&#1614;&#1577;&#1615; &#1575;&#1604;&#1618;&#1576;&#1614;&#1602;&#1614;&#1585;&#1614;&#1577;&#1616; * &#1585;&#1608;&#1575;&#1607; &#1605;&#1587;&#1604;&#1605;</p>
	<p>“Jangan kalian jadikan rumah kalian menjadi kuburan (tidak pernah dibacakan Qur`an di dalamnya), sesungguhnya syetan itu lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al-Baqoroh.”</p>
	<p>5. Membaca akhir surat Al-Baqoroh.</p>
	<p>Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :</p>
	<p>&#1573;&#1616;&#1606;&#1617;&#1614; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607; &#1603;&#1614;&#1578;&#1614;&#1576;&#1614; &#1603;&#1616;&#1578;&#1614;&#1575;&#1576;&#1611;&#1575; &#1602;&#1614;&#1576;&#1618;&#1604;&#1614; &#1571;&#1614;&#1606;&#1618; &#1610;&#1614;&#1582;&#1618;&#1604;&#1615;&#1602;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1582;&#1614;&#1604;&#1618;&#1602;&#1614; &#1576;&#1616;&#1571;&#1614;&#1604;&#1618;&#1601;&#1614;&#1610;&#1618; &#1593;&#1614;&#1575;&#1605;&#1613;&#1571;&#1614;&#1606;&#1618;&#1586;&#1614;&#1604;&#1614; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618;&#1607;&#1615; &#1571;&#1610;&#1614;&#1578;&#1614;&#1610;&#1618;&#1606;&#1616; &#1582;&#1614;&#1578;&#1614;&#1605;&#1614; &#1576;&#1616;&#1607;&#1616;&#1605;&#1614;&#1575; &#1587;&#1615;&#1608;&#1618;&#1585;&#1614;&#1577;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1576;&#1614;&#1602;&#1614;&#1585;&#1614;&#1577;&#1616; &#1601;&#1614;&#1604;&#1575;&#1614;&#1610;&#1615;&#1602;&#1618;&#1585;&#1614;&#1569;&#1575;&#1614;&#1606;&#1616; &#1601;&#1609;&#1616; &#1583;&#1614;&#1575;&#1585;&#1613; &#1579;&#1614;&#1604;&#1575;&#1614;&#1579;&#1614; &#1604;&#1614;&#1610;&#1614;&#1575;&#1604;&#1613; &#1601;&#1614;&#1610;&#1614;&#1602;&#1618;&#1585;&#1614;&#1576;&#1615;&#1607;&#1614;&#1575; &#1588;&#1614;&#1610;&#1618;&#1591;&#1614;&#1575;&#1606;&#1612; * &#1585;&#1608;&#1575;&#1607; &#1575;&#1604;&#1578;&#1585;&#1605;&#1584;&#1609;</p>
	<p>“Sesungguhnya Alloh menulis kitab dua tahun sebelum Alloh menciptakan makhluk, Alloh menurunkan dari padanya dua ayat yang Alloh menutup dengan kedua ayat tersebut pada surat Al-Baqoroh, maka tidak dibaca dua ayat itu dalam rumah selama tiga hari kecuali syetan tidak berani mendekatnya.”</p>
	<p>6. Membaca awalnya surat Al-mu`min sampai dengan ayat ( &#1573;&#1616;&#1604;&#1614;&#1610;&#1618;&#1607;&#1616;&#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1614;&#1589;&#1616;&#1610;&#1585;&#1616;) bersama ayat kursi.</p>
	<p>Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :</p>
	<p>&#1605;&#1614;&#1606;&#1618; &#1602;&#1614;&#1585;&#1614;&#1571;&#1614; &#1581;&#1605;&#1613; &#1575;&#1618;&#1604;&#1605;&#1615;&#1572;&#1618;&#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1573;&#1616;&#1604;&#1609;&#1614; &#1602;&#1614;&#1608;&#1618;&#1604;&#1616;&#1607;&#1616; ( &#1573;&#1616;&#1604;&#1614;&#1610;&#1618;&#1607;&#1616; &#1575;&#1618;&#1604;&#1605;&#1614;&#1589;&#1616;&#1610;&#1618;&#1585;&#1615; ) &#1608;&#1614;&#1571;&#1610;&#1614;&#1577;&#1614;&#1575;&#1604;&#1618;&#1603;&#1615;&#1585;&#1618;&#1587;&#1616;&#1609;&#1617;&#1616; &#1581;&#1616;&#1610;&#1618;&#1606;&#1614; &#1610;&#1615;&#1589;&#1618;&#1576;&#1616;&#1581;&#1615; &#1581;&#1615;&#1601;&#1616;&#1592;&#1614; &#1576;&#1616;&#1607;&#1616;&#1605;&#1614;&#1575; &#1581;&#1614;&#1578;&#1617;&#1614;&#1609; &#1610;&#1615;&#1605;&#1618;&#1587;&#1616;&#1610;&#1614; &#1608;&#1614;&#1605;&#1614;&#1606;&#1618;&#1602;&#1614;&#1585;&#1614;&#1571;&#1614;&#1607;&#1615;&#1605;&#1614;&#1575; &#1581;&#1616;&#1610;&#1618;&#1606;&#1614; &#1610;&#1615;&#1605;&#1618;&#1587;&#1616;&#1609; &#1581;&#1615;&#1601;&#1616;&#1592;&#1614; &#1576;&#1616;&#1607;&#1616;&#1605;&#1614;&#1575; &#1581;&#1614;&#1578;&#1617;&#1614;&#1609; &#1610;&#1615;&#1589;&#1618;&#1576;&#1616;&#1581;&#1614; * &#1585;&#1608;&#1575;&#1607; &#1575;&#1604;&#1578;&#1585;&#1605;&#1584;&#1609;</p>
	<p>“Barang siapa membaca &#1581;&#1605; &#1575;&#1604;&#1605;&#1572;&#1605;&#1606; sampai firman Alloh &#1573;&#1616;&#1604;&#1614;&#1610;&#1618;&#1607;&#1616;&#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1614;&#1589;&#1616;&#1610;&#1618;&#1585;&#1614; dan ayat kursi di waktu shubuh maka dia dijaga sebab membaca dua surat tersebut hingga sore, dan barang siapa membaca keduanya di waktu sore maka dijaga sebab membaca keduanya hingga shubuh.</p>
	<p>”7. Membaca seratus kali :</p>
	<p>&#1604;&#1575;&#1614; &#1573;&#1616;&#1604;&#1607;&#1614; &#1573;&#1616;&#1604;&#1575;&#1617;&#1614; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1615; &#1608;&#1614;&#1581;&#1618;&#1583;&#1614;&#1607;&#1615; &#1604;&#1575;&#1614; &#1588;&#1614;&#1585;&#1616;&#1610;&#1618;&#1603;&#1614;&#1604;&#1614;&#1607;&#1615; &#1604;&#1614;&#1607;&#1615; &#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1615;&#1604;&#1618;&#1603;&#1615; &#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1607;&#1615; &#1575;&#1604;&#1618;&#1581;&#1614;&#1605;&#1618;&#1583;&#1615; &#1608;&#1614;&#1607;&#1615;&#1608;&#1614; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1609; &#1603;&#1615;&#1604;&#1617;&#1616; &#1588;&#1614;&#1574;&#1613; &#1602;&#1614;&#1583;&#1616;&#1610;&#1618;&#1585;&#1612;</p>
	<p>Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :</p>
	<p>&#1605;&#1614;&#1606;&#1618; &#1602;&#1614;&#1575;&#1604;&#1614; &#1604;&#1575;&#1614; &#1573;&#1616;&#1604;&#1607;&#1614; &#1573;&#1616;&#1604;&#1575;&#1617;&#1614; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1615; &#1608;&#1614;&#1581;&#1618;&#1583;&#1614;&#1607;&#1615; &#1604;&#1575;&#1614; &#1588;&#1614;&#1585;&#1616;&#1610;&#1618;&#1603;&#1614; &#1604;&#1614;&#1607;&#1615; &#1604;&#1614;&#1607;&#1615; &#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1615;&#1604;&#1618;&#1603;&#1615;&#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1607;&#1615; &#1575;&#1604;&#1618;&#1581;&#1614;&#1605;&#1618;&#1583;&#1615; &#1608;&#1614;&#1607;&#1615;&#1608;&#1614; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1609;<br>
&#1603;&#1615;&#1604;&#1617;&#1616; &#1588;&#1614;&#1574;&#1613; &#1602;&#1614;&#1583;&#1616;&#1610;&#1618;&#1585;&#1612; &#1601;&#1616;&#1609; &#1610;&#1614;&#1608;&#1618;&#1605;&#1613; &#1605;&#1616;&#1575;&#1574;&#1614;&#1577;&#1614; &#1605;&#1614;&#1585;&#1617;&#1614;&#1577;&#1613;&#1603;&#1614;&#1575;&#1606;&#1614;&#1578;&#1618; &#1604;&#1614;&#1607;&#1615; &#1593;&#1616;&#1583;&#1618;&#1604;&#1614; &#1593;&#1614;&#1588;&#1618;&#1585;&#1616; &#1585;&#1616;&#1602;&#1614;&#1575;&#1576;&#1613; &#1608;&#1614;&#1603;&#1615;&#1578;&#1616;&#1576;&#1614;&#1578;&#1618; &#1604;&#1614;&#1607;&#1615; &#1605;&#1616;&#1575;&#1574;&#1614;&#1577;&#1615; &#1581;&#1614;&#1587;&#1614;&#1606;&#1614;&#1577;&#1613;&#1608;&#1614;&#1605;&#1615;&#1581;&#1616;&#1610;&#1614;&#1578;&#1618; &#1593;&#1614;&#1606;&#1618;&#1607;&#1615; &#1605;&#1616;&#1575;&#1574;&#1614;&#1577;&#1615; &#1587;&#1614;&#1610;&#1617;&#1616;&#1574;&#1614;&#1577;&#1613; &#1608;&#1614;&#1603;&#1614;&#1575;&#1606;&#1614;&#1578;&#1618; &#1604;&#1614;&#1607;&#1615; &#1581;&#1616;&#1585;&#1618;&#1586;&#1611;&#1575; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1588;&#1617;&#1614;&#1610;&#1618;&#1591;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616;&#1610;&#1614;&#1608;&#1618;&#1605;&#1614;&#1607;&#1615;&#1584;&#1614;&#1604;&#1616;&#1603;&#1614;&#1581;&#1614;&#1578;&#1617;&#1614;&#1609; &#1610;&#1615;&#1605;&#1618;&#1587;&#1616;&#1610;&#1614; &#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1605;&#1618; &#1610;&#1614;&#1571;&#1618;&#1578;&#1616; &#1571;&#1614;&#1581;&#1614;&#1583;&#1612; &#1576;&#1616;&#1571;&#1614;&#1601;&#1618;&#1590;&#1614;&#1604;&#1614; &#1605;&#1616;&#1605;&#1617;&#1614;&#1575; &#1580;&#1614;&#1575;&#1569;&#1614;&#1576;&#1616;&#1607;&#1616; &#1573;&#1616;&#1604;&#1575;&#1617;&#1614; &#1571;&#1614;&#1581;&#1614;&#1583;&#1612; &#1593;&#1614;&#1605;&#1616;&#1604;&#1614; &#1571;&#1614;&#1603;&#1618;&#1579;&#1614;&#1585;&#1614; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618; &#1584;&#1614;&#1604;&#1616;&#1603;&#1614; * &#1585;&#1608;&#1575;&#1607; &#1575;&#1604;&#1576;&#1582;&#1575;&#1585;&#1610;</p>
	<p>“Barang siapa yang membaca: &#1604;&#1575;&#1614; &#1573;&#1616;&#1604;&#1607;&#1614; &#1573;&#1616;&#1604;&#1575;&#1617;&#1614; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1615; &#1608;&#1614;&#1581;&#1618;&#1583;&#1614;&#1607;&#1615; &#1604;&#1575;&#1614; &#1588;&#1614;&#1585;&#1616;&#1610;&#1618;&#1603;&#1614; &#1604;&#1614;&#1607;&#1615;&#1604;&#1614;&#1607;&#1615; &#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1615;&#1604;&#1618;&#1603;&#1615; &#1608;&#1614;&#1604;&#1614;&#1607;&#1615; &#1575;&#1604;&#1618;&#1581;&#1614;&#1605;&#1618;&#1583;&#1615; &#1608;&#1614;&#1607;&#1615;&#1608;&#1614; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1609; &#1603;&#1615;&#1604;&#1617;&#1616; &#1588;&#1614;&#1574;&#1613; &#1602;&#1614;&#1583;&#1616;&#1610;&#1618;&#1585;&#1612;seratus kali dalam sehari, maka membandingi memerdekakan sepuluh budak danditulis baginya seratus kebaikan dan dihapus dari padanya seratus kesalahandan bacaan itu baginya sebagai penjagaan dari syetan hari itu sampai soredan tidak datang seorang pun dengan yang lebih utama dari apa yang diadatang dengannya kecuali seorang yang mengamalkan lebih banyak dari itu.”</p>
	<p>8. Memperbanyak dzikir kepada Alloh ‘Azza wajalla.</p>
	<p>Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda menceritakan perintah Alloh kepada Nabi Yahya bin Zakariya yang antara lain beliau menyuruh umatnya dengan sabdanya :</p>
	<p>&#1608;&#1614;&#1571;&#1605;&#1615;&#1585;&#1615;&#1603;&#1615;&#1605;&#1618; &#1571;&#1614;&#1606;&#1618; &#1578;&#1614;&#1584;&#1618;&#1603;&#1615;&#1585;&#1615;&#1608;&#1618;&#1575; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1614; &#1578;&#1614;&#1593;&#1614;&#1575;&#1604;&#1609;&#1614; &#1608;&#1614;&#1573;&#1616;&#1606;&#1617;&#1614; &#1605;&#1616;&#1579;&#1618;&#1604;&#1614; &#1584;&#1614;&#1604;&#1616;&#1603;&#1614; &#1603;&#1614;&#1605;&#1616;&#1579;&#1618;&#1604;&#1616;&#1585;&#1614;&#1580;&#1615;&#1604;&#1613; &#1582;&#1614;&#1585;&#1614;&#1580;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1593;&#1614;&#1583;&#1615;&#1608;&#1617;&#1615; &#1601;&#1609;&#1616; &#1571;&#1614;&#1579;&#1614;&#1585;&#1616;&#1607;&#1616; &#1587;&#1616;&#1585;&#1614;&#1575;&#1593;&#1611;&#1575; &#1581;&#1614;&#1578;&#1617;&#1614;&#1609; &#1571;&#1614;&#1578;&#1614;&#1609; &#1593;&#1614;&#1604;&#1614;&#1609; &#1581;&#1616;&#1589;&#1618;&#1606;&#1613;&#1581;&#1614;&#1589;&#1616;&#1610;&#1618;&#1606;&#1613; &#1601;&#1614;&#1571;&#1614;&#1581;&#1618;&#1585;&#1614;&#1589;&#1614; &#1606;&#1614;&#1601;&#1618;&#1587;&#1614;&#1607;&#1615; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618;&#1607;&#1615;&#1605;&#1618; &#1548; &#1603;&#1614;&#1584;&#1614;&#1575;&#1604;&#1616;&#1603;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1593;&#1614;&#1576;&#1618;&#1583;&#1615; &#1604;&#1575;&#1614;&#1610;&#1614;&#1581;&#1618;&#1585;&#1615;&#1586;&#1615;&#1606;&#1614;&#1601;&#1618;&#1587;&#1614;&#1607;&#1615; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1588;&#1617;&#1614;&#1610;&#1618;&#1591;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616; &#1573;&#1616;&#1604;&#1575;&#1617;&#1614; &#1576;&#1616;&#1584;&#1616;&#1603;&#1618;&#1585;&#1616; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1616; &#1578;&#1614;&#1593;&#1614;&#1575;&#1604;&#1609;&#1614; * &#1585;&#1608;&#1575;&#1607; &#1575;&#1604;&#1578;&#1585;&#1605;&#1584;&#1609; &#1601;&#1609;&#1571;&#1603;&#1575;&#1605; &#1575;&#1604;&#1605;&#1585;&#1580;&#1575;&#1606;</p>
	<p>“Dan aku ( Yahya bin Zakariya) menyuruh kalian (kaumku) untuk berdzikirkepada Alloh Ta’ala karena perumpamaannya ialah seperti seorang laki-lakiyang keluar diikuti oleh musuh secara cepat sehingga dia datang di sebuahbenteng yang membentenginya (dari musuh) maka dia bisa menjaga dirinya dari(kejaran) mereka, begitu pula seorang hamba Alloh dia tidak bisa menjaga dirinya dari syetan kecuali dengan dzikir kepada Alloh Ta’ala.”</p>
	<p>9. Wudlu dan sholat.Ini adalah sebesar-besar amalan untuk menjaga diri dari syetan. </p>
	<p>Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :</p>
	<p>&#1573;&#1616;&#1606;&#1617;&#1614; &#1575;&#1604;&#1618;&#1594;&#1614;&#1590;&#1614;&#1576;&#1614; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1588;&#1617;&#1614;&#1610;&#1618;&#1591;&#1614;&#1575;&#1606;&#1616; &#1608;&#1614;&#1573;&#1616;&#1606;&#1617;&#1614; &#1575;&#1604;&#1588;&#1617;&#1614;&#1610;&#1618;&#1591;&#1614;&#1575;&#1606;&#1614; &#1605;&#1616;&#1606;&#1614; &#1575;&#1604;&#1606;&#1617;&#1614;&#1575;&#1585;&#1616;&#1608;&#1614;&#1573;&#1616;&#1606;&#1617;&#1614;&#1605;&#1614;&#1575; &#1578;&#1615;&#1591;&#1618;&#1601;&#1614;&#1571;&#1615; &#1575;&#1604;&#1606;&#1617;&#1614;&#1575;&#1585;&#1615; &#1576;&#1616;&#1575;&#1604;&#1618;&#1605;&#1614;&#1575;&#1569;&#1616; &#1601;&#1614;&#1573;&#1616;&#1584;&#1614;&#1575; &#1594;&#1614;&#1590;&#1616;&#1576;&#1614; &#1571;&#1614;&#1581;&#1614;&#1583;&#1615;&#1603;&#1615;&#1605;&#1618;&#1601;&#1614;&#1604;&#1618;&#1610;&#1614;&#1578;&#1614;&#1608;&#1614;&#1590;&#1617;&#1614;&#1571;&#1618; * &#1585;&#1608;&#1575;&#1607; &#1575;&#1576;&#1608; &#1583;&#1575;&#1608;&#1583; &#1601;&#1609; &#1603;&#1578;&#1575;&#1576; &#1575;&#1604;&#1571;&#1583;&#1576;</p>
	<p>“Sesungguhnya marah itu dari syetan dan syetan itu dari api dan api itu dipadamkan dengan air maka ketika salah satu dari kamu marah maka hendaklah berwudlu.”</p>
	<p>10.Menahan diri dari kelebihan pandangan, kelebihan ucapan dan makan serta pergaulan dengan manusia, karena syetan menguasai manusia itu melalui empathal ini.</p>
	<p>Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :</p>
	<p>&#1614;&#1575;&#1604;&#1606;&#1617;&#1614;&#1592;&#1618;&#1585;&#1614;&#1577;&#1615; &#1587;&#1614;&#1607;&#1618;&#1605;&#1612; &#1605;&#1614;&#1587;&#1618;&#1605;&#1615;&#1608;&#1618;&#1605;&#1612; &#1605;&#1616;&#1606;&#1618; &#1587;&#1616;&#1607;&#1614;&#1575;&#1616;&#1605; &#1573;&#1616;&#1576;&#1618;&#1604;&#1616;&#1610;&#1587;&#1614; &#1601;&#1614;&#1605;&#1614;&#1606;&#1618; &#1594;&#1614;&#1590;&#1617;&#1614; &#1576;&#1614;&#1589;&#1614;&#1585;&#1614;&#1607;&#1615;&#1604;&#1604;&#1607;&#1616; &#1593;&#1614;&#1586;&#1617;&#1614; &#1608;&#1614;&#1580;&#1614;&#1604;&#1617;&#1614; &#1571;&#1614;&#1608;&#1618;&#1585;&#1614;&#1579;&#1614;&#1607;&#1615; &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;&#1615; &#1581;&#1614;&#1604;&#1575;&#1614;&#1608;&#1614;&#1577;&#1611; &#1610;&#1614;&#1580;&#1616;&#1583;&#1615;&#1607;&#1614;&#1575; &#1601;&#1609;&#1616; &#1602;&#1614;&#1604;&#1618;&#1576;&#1616;&#1607;&#1616; &#1573;&#1616;&#1604;&#1609;&#1614;&#1610;&#1614;&#1608;&#1618;&#1605;&#1613; &#1610;&#1614;&#1604;&#1618;&#1602;&#1614;&#1575;&#1607;&#1615; * &#1585;&#1608;&#1575;&#1607; &#1571;&#1581;&#1605;&#1583;</p>
	<p>“Pandangan mata itu adalah anak panah beracun dari beberapa anak panah Iblis, maka barang siapa menundukkan matanya karena Alloh ‘Azza wajallaAlloh memberikan kepadanya manisnya iman yang dia temui dalam hatinya sampaihari yang dia ketemu Alloh.”</p>
	<p>Mudah-mudahan dengan mengamalkan sepuluh penjagaan ini Alloh melindungi kita dari pengaruh Iblis, jin dan syetan .</p>
	<p>Mudah-mudahan Alloh paring barokah. Amin.
</p>
<p> <small> <a href="http://chandra354.blog.co.uk/2008/06/04/sepuluh-penjagaan-dari-kejahatan-pengaru-4271748/#comments">Comments</a> </small> </p>]]></content:encoded></default:item><default:item xmlns:default="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" rdf:about="http://chandra354.blog.co.uk/2008/05/14/menahan-emosi-4170977/"><default:title>Menahan Emosi</default:title><default:link>http://chandra354.blog.co.uk/2008/05/14/menahan-emosi-4170977/</default:link><dc:date xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">2008-05-14T04:35:07+02:00</dc:date><default:description>	&lt;p&gt;Marah kayaknya hal yang sering kita lakukan, entah itu ke orang yang nggak kita suka, ke temen, ke saudara, ke pasangan hidup kita atau mungkin ke anak kita. Apalagi disaat kita pulang kerja badan capek, letih dirumah ada masalah kayaknya pengennya marah-marah.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Coba kita latih untuk meredam emosi kita. Soalnya sebagai orang beriman ada beberapa dalil yang perlu kita perhatikan, didalam Al-Qur,an maupun Al-Hadis banyak yang memerintahkan kita untuk menahan marah.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;"(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan(kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan".(QS. Ali Imran - 134)&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Dari abu Hurairah, sesungguhnya Rajul berkata pada Rasulullah SAW, berilah saya nasehat. Rasulullah bersabda "Janganlah engkau marah"Rasulullah mengulang-ulang pada ucapannya. (HR. Bukhari)&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Banyak hikmah yang kita dapat dari menahan emosi kita.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;1. Mungkin ada hikmah dari yang membuat kita emosi.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Didalam surat Al-Boqoroh ayat 216 diterangkan &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;"Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal ia sangat baik untukmu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kalian tidak mengetahui"&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Dari ayat ini kita bisa ambil hikmah dari sesuatu yang membuat kita emosi bukan berarti buruk untuk kita mungkin sesuatu yang baik untuk kita, jadi jangan marah dulu renungkan masalah yang sedang menimpa kita.Atau malah marah kita hanya untuk menutupi kekurangan kita.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;2. Tidak ada penghalang antara doa kita dan Allah.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Nah, kalau yang membuat emosi kita itu sifatnya penganiayaan, kita juga nggak perlu emosi, karena dengan bersabar terhadap penaniayaan ada sesuatu yang sangat hebat, yaitu doa orang yang dianiaya wajib dikabulkan oleh Allah SWT.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;"Takutlah kamu pada doanya orang yang dianiaya, maka sesungguhnya doanya orang yang dianiaya tidak ada penghalang antara doa dan Allah"(HR. Tirmidzi)&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;3. Akan menjadi orang terkuat.Didalam hadis rasulullah bersabda :&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;"Orang yang kuat bukanlah orang yang hebat dalam bertengkar, sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang bisa menahan emosi ketika harus marah" (HR. Bukhari)&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Bukti orang yang emosi lemah dibuktikan oleh Muhammad Ali dengan julukan si mulut besar, setiap akan melakukan pertandingan dia selalu melakukan psi-war ke lawan mainnya, tujuannya supaya lawannya terpancing emosinya saat bertanding, kalau emosinya sudah terpancing mainnya tidak bisa konsentrasi jadilah Muhammad Ali sebagai pemenang dalam pertandingan itu.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Imbalan yang akan diterima disisi Allah :&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;1. Allah akan memasukkan kedalam Surga.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Dalam surat Ali Imran 133-134&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan(kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;2. Menjadi pemimpin ahli Surga."Barang siapa yang dapat menahan marah ketika dia harus marah maka Allah akan memanggilnya bersama para pemimpin mahluk sehingga dia disuruh memilih bidadari yang dia mau" (HR. Tirmidzi)&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Cara mencegah marah :&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;1. Berwudhu&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;"Sesungguhnya marah-marah dari Setan, dan sesungguhnya setan diciptakan dari api, dan sesungguhnya api dimatikan dengan air. Maka ketika salah satu kalian marah-marah maka hendaklah berwudhu" (HR. Abu Dawud)&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;2. Rubah posisi&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Ketika salah satu kalian marah dalam keadaan berdiri maka hendaklah duduk, maka hilang marah-marahnya. Dan jika tidak hilang maka hendaklah berbaring". (HR. Abu dawud)&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;3. Redam ego.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Orang marah biasanya karena ego-nya naik, cobalah untuk merendahkan ego-nya serendah2nya, insya Allah emosi kita bisa terkendali.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt; &lt;small&gt; &lt;a href="http://chandra354.blog.co.uk/2008/05/14/menahan-emosi-4170977/#comments"&gt;Comments&lt;/a&gt; &lt;/small&gt; &lt;/p&gt;</default:description><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[	<p>Marah kayaknya hal yang sering kita lakukan, entah itu ke orang yang nggak kita suka, ke temen, ke saudara, ke pasangan hidup kita atau mungkin ke anak kita. Apalagi disaat kita pulang kerja badan capek, letih dirumah ada masalah kayaknya pengennya marah-marah.</p>
	<p>Coba kita latih untuk meredam emosi kita. Soalnya sebagai orang beriman ada beberapa dalil yang perlu kita perhatikan, didalam Al-Qur,an maupun Al-Hadis banyak yang memerintahkan kita untuk menahan marah.</p>
	<p>"(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan(kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan".(QS. Ali Imran - 134)</p>
	<p>Dari abu Hurairah, sesungguhnya Rajul berkata pada Rasulullah SAW, berilah saya nasehat. Rasulullah bersabda "Janganlah engkau marah"Rasulullah mengulang-ulang pada ucapannya. (HR. Bukhari)</p>
	<p>Banyak hikmah yang kita dapat dari menahan emosi kita.</p>
	<p>1. Mungkin ada hikmah dari yang membuat kita emosi.</p>
	<p>Didalam surat Al-Boqoroh ayat 216 diterangkan </p>
	<p>"Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal ia sangat baik untukmu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kalian tidak mengetahui"</p>
	<p>Dari ayat ini kita bisa ambil hikmah dari sesuatu yang membuat kita emosi bukan berarti buruk untuk kita mungkin sesuatu yang baik untuk kita, jadi jangan marah dulu renungkan masalah yang sedang menimpa kita.Atau malah marah kita hanya untuk menutupi kekurangan kita.</p>
	<p>2. Tidak ada penghalang antara doa kita dan Allah.</p>
	<p>Nah, kalau yang membuat emosi kita itu sifatnya penganiayaan, kita juga nggak perlu emosi, karena dengan bersabar terhadap penaniayaan ada sesuatu yang sangat hebat, yaitu doa orang yang dianiaya wajib dikabulkan oleh Allah SWT.</p>
	<p>"Takutlah kamu pada doanya orang yang dianiaya, maka sesungguhnya doanya orang yang dianiaya tidak ada penghalang antara doa dan Allah"(HR. Tirmidzi)</p>
	<p>3. Akan menjadi orang terkuat.Didalam hadis rasulullah bersabda :</p>
	<p>"Orang yang kuat bukanlah orang yang hebat dalam bertengkar, sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang bisa menahan emosi ketika harus marah" (HR. Bukhari)</p>
	<p>Bukti orang yang emosi lemah dibuktikan oleh Muhammad Ali dengan julukan si mulut besar, setiap akan melakukan pertandingan dia selalu melakukan psi-war ke lawan mainnya, tujuannya supaya lawannya terpancing emosinya saat bertanding, kalau emosinya sudah terpancing mainnya tidak bisa konsentrasi jadilah Muhammad Ali sebagai pemenang dalam pertandingan itu.</p>
	<p>Imbalan yang akan diterima disisi Allah :</p>
	<p>1. Allah akan memasukkan kedalam Surga.</p>
	<p>Dalam surat Ali Imran 133-134</p>
	<p>Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,</p>
	<p>(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan(kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.</p>
	<p>2. Menjadi pemimpin ahli Surga."Barang siapa yang dapat menahan marah ketika dia harus marah maka Allah akan memanggilnya bersama para pemimpin mahluk sehingga dia disuruh memilih bidadari yang dia mau" (HR. Tirmidzi)</p>
	<p>Cara mencegah marah :</p>
	<p>1. Berwudhu</p>
	<p>"Sesungguhnya marah-marah dari Setan, dan sesungguhnya setan diciptakan dari api, dan sesungguhnya api dimatikan dengan air. Maka ketika salah satu kalian marah-marah maka hendaklah berwudhu" (HR. Abu Dawud)</p>
	<p>2. Rubah posisi</p>
	<p>Ketika salah satu kalian marah dalam keadaan berdiri maka hendaklah duduk, maka hilang marah-marahnya. Dan jika tidak hilang maka hendaklah berbaring". (HR. Abu dawud)</p>
	<p>3. Redam ego.</p>
	<p>Orang marah biasanya karena ego-nya naik, cobalah untuk merendahkan ego-nya serendah2nya, insya Allah emosi kita bisa terkendali.</p>
<p> <small> <a href="http://chandra354.blog.co.uk/2008/05/14/menahan-emosi-4170977/#comments">Comments</a> </small> </p>]]></content:encoded></default:item><default:item xmlns:default="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" rdf:about="http://chandra354.blog.co.uk/2008/04/23/true-love-4081719/"><default:title>True Love</default:title><default:link>http://chandra354.blog.co.uk/2008/04/23/true-love-4081719/</default:link><dc:date xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">2008-04-23T04:35:36+02:00</dc:date><default:description>	&lt;p&gt;You're the world to me--&lt;br&gt;
there's no one quite like you.&lt;br&gt;
You're the one I love,&lt;br&gt;
the one I want to touch.&lt;br&gt;
I give you my heart,&lt;br&gt;
and I need you so much.&lt;br&gt;
Offer me your sweet caresses;&lt;br&gt;
fill me with your wonderful light;&lt;br&gt;
soothe my aching heart;&lt;br&gt;
and hold me through the night.&lt;br&gt;
The mere sound of your voice&lt;br&gt;
summons deep emotion within&lt;br&gt;
Like an old familiar song&lt;br&gt;
like the comfort of a friend.&lt;br&gt;
When you're near,&lt;br&gt;
I'm lost to thoughts of love&lt;br&gt;
as you touch me with a magic&lt;br&gt;
that's as grand as stars above.&lt;br&gt;
I want to hold your hand.&lt;br&gt;
I hunger for your kiss.&lt;br&gt;
Offer me sweet tidings&lt;br&gt;
of true love's tender bliss.&lt;br&gt;
I promise our love shall soar,&lt;br&gt;
carried on the wings of a dove.&lt;br&gt;
So give me your heart,&lt;br&gt;
and bless me with your love&lt;/p&gt;
&lt;p&gt; &lt;small&gt; &lt;a href="http://chandra354.blog.co.uk/2008/04/23/true-love-4081719/#comments"&gt;Comments&lt;/a&gt; &lt;/small&gt; &lt;/p&gt;</default:description><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[	<p>You're the world to me--<br>
there's no one quite like you.<br>
You're the one I love,<br>
the one I want to touch.<br>
I give you my heart,<br>
and I need you so much.<br>
Offer me your sweet caresses;<br>
fill me with your wonderful light;<br>
soothe my aching heart;<br>
and hold me through the night.<br>
The mere sound of your voice<br>
summons deep emotion within<br>
Like an old familiar song<br>
like the comfort of a friend.<br>
When you're near,<br>
I'm lost to thoughts of love<br>
as you touch me with a magic<br>
that's as grand as stars above.<br>
I want to hold your hand.<br>
I hunger for your kiss.<br>
Offer me sweet tidings<br>
of true love's tender bliss.<br>
I promise our love shall soar,<br>
carried on the wings of a dove.<br>
So give me your heart,<br>
and bless me with your love</p>
<p> <small> <a href="http://chandra354.blog.co.uk/2008/04/23/true-love-4081719/#comments">Comments</a> </small> </p>]]></content:encoded></default:item><default:item xmlns:default="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" rdf:about="http://chandra354.blog.co.uk/2008/03/05/indahnya-kasih-sayang-3819225/"><default:title>Indahnya Kasih Sayang</default:title><default:link>http://chandra354.blog.co.uk/2008/03/05/indahnya-kasih-sayang-3819225/</default:link><dc:date xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">2008-03-05T10:17:17+01:00</dc:date><default:description>	&lt;p&gt;Mahasuci ALLOH, Zat yang Maha Mengaruniakan kasih sayang kepada makhluk-makhluk Nya. Tidaklah kasih sayang melekat pada diri seseorang, kecuali akan memperindah orang tersebut, dan tidaklah kasih sayang terlepas dari diri seseorang, kecuali akan memperburuk dan menghinakan orang tersebut. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Betapa tidak? Jikalau kemampuan kita menyayangi orang lain tercabut, maka itulah biang dari segala bencana, karena kasih sayang ALLOH Azza wa Jalla ternyata hanya akan diberikan kepada orang-orang yang masih hidup kasih sayang di kalbunya.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Karenanya, tidak bisa tidak, kita harus berjuang dengan sekuat tenaga agar hati nurani kita hidup. Tidak berlebihan jikalau kita mengasahnya dengan merasakan keterharuan dari kisah-kisah orang yang rela meluangkan waktu untuk memperhaikan orang lain. Kita dengar bagaimana ada orang yang rela bersusah-payah membacakan buku, koran, atau juga surat kepada orang-orang tuna netra, sehingga mereka bisa belajar, bisa dapat informasi, dan bisa mendapatkan ilmu yang lebih luas.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda, "ALLOH SWT mempunyai seratus rahmat (kasih sayang), dan menurunkan satu rahmat (dari seratus rahmat) kepada jin, manusia, binatang, dan hewan melata. Dengan rahmat itu mereka saling berbelas-kasih dan berkasih sayang, dan dengannya pula binatang-binatang buas menyayangi anak-anaknya. Dan (ALLOH SWT) menangguhkan 99 bagian rahmat itu sebagai kasih sayang-Nya pada hari kiamat nanti." (H.R. Muslim).&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Dari hadis ini nampaklah, bahwa walau hanya satu rahmat-Nya yang diturunkan ke bumi, namun dampaknya bagi seluruh makhluk sungguh luar biasa dahsyatnya. Karenanya, sudah sepantasnya jikalau kita merindukan kasih sayang, perhatian, dan perlindungan ALLOH SWT, tanyakanlah kembali pada diri ini, sampai sejauhmana kita menghidupkan kalbu untuk saling berkasih sayang bersama makhluk lain?&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Kasih sayang dapat diibaratkan sebuah mata air yang selalu bergejolak keinginannya untuk melepaskan beribu-ribu kubik air bening yang membuncah dari dalamnya tanpa pernah habis. Kepada air yang telah mengalir untuk selanjutnya menderas mengikuti alur sungai menuju lautan luas, mata air sama sekali tidak pernah mengharapkan ia kembali. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Sama pula seperti pancaran sinar cerah matahari di pagi hari, dari dulu sampai sekarang ia terus-menerus memancarkan sinarnya tanpa henti, dan sama pula, matahari tidak mengharap sedikit pun sang cahaya yang telah terpancar kembali pada dirinya. Seharusnya seperti itulah sumber kasih sayang di kalbu kita, ia benar-benar melimpah terus tidak pernah ada habisnya.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Tidak ada salahnya agar muncul kepekaan kita menyayangi orang lain, kita mengawalinya dengan menyayangi diri kita dulu. Mulailah dengan menghadapkan tubuh ini ke cermin seraya bertanya-tanya: Apakah wajah indah ini akan bercahaya di akhirat nanti, atau justru sebaliknya, wajah ini akan gosong terbakar nyala api jahannam? &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Tataplah hitamnya mata kita, apakah mata ini, mata yang bisa menatap ALLOH, menatap Rasulullah SAW, menatap para kekasih ALLOH di surga kelak, atau malah akan terburai karena kemaksiyatan yang pernah dilakukannya? &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Rabalah bibir manis kita, apakah ia akan bisa tersenyum gembira di surga sana atau malah bibir yang lidahnya akan menjulur tercabik-cabik?! &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Perhatikan tubuh tegap kita, apakah ia akan berpendar penuh cahaya di surga sana, sehingga layak berdampingan dengan si pemiliki tubuh mulia, Rasulullah SAW, atau tubuh ini malah akan membara, menjadi bahan bakar bersama hangusnya batu-batu di kerak neraka jahannam? &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Ketika memandang kaki, tanyakanlah apakah ia senantiasa melangkah di jalan ALLOH sehingga berhak menginjakkannya di surga kelak, atau malah akan dicabik-cabik pisau berduri. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Memandang mulusnya kulit kita, renungkanlah apakah kulit ini akan menjadi indah bercahaya ataukah akan hitam legam karena gosong dijilat lidah api jahannam? &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Mudah-mudahan dengan bercermin sambil menafakuri diri, kita akan lebih mempunyai kekuatan untuk menjaga diri kita. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Jangan pula meremehkan makhluk ciptaan ALLOH, sebab tidaklah ALLOH menciptakan makhluk-Nya dengan sia-sia. Semua yang ALLOH ciptakan syarat dengan ilmu, hikmah, dan ladang amal. Semua yang bergerak, yang terlihat, yang terdengar, dan apa saja karunia dari ALLOH adalah jalan bagi kita untuk bertafakur jikalau hati ini bisa merabanya dengan penuh kasih sayang.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Dikisahkan di hari akhir datang seorang hamba ahli ibadah kepada ALLOH, tetapi ALLOH malah mencapnya sebagai ahli neraka, mengapa? Ternyata karena suatu ketika si ahli ibadah ini pernah mengurung seekor kucing sehingga ia tidak bisa mencari makan dan tidak pula diberi makan oleh si ahli ibadah ini. Akhirnya mati kelaparanlah si kucing ini. Ternyata walau ia seorang ahli ibadah, laknat ALLOH tetap menimpa si ahli ibadah ini, dan ALLOH menetapkannya sebagai seorang ahli neraka, tiada lain karena tidak hidup kasih sayang di kalbunya. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Tetapi ada kisah sebaliknya, suatu waktu seorang wanita berlumur dosa sedang beristirahat di pinggir sebuah oase yang berair dalam di sebuah lembah padang pasir. Tiba-tiba datanglah seekor anjing yang menjulur-julurkan lidahnya seakan sedang merasakan kehausan yang luar biasa. Walau tidak mungkin terjangkau kerena dalamnya air di oase itu, anjing itu tetap berusaha menjangkaunya, tapi tidak dapat. Melihat kejadian ini, tergeraklah si wanita untuk menolongnya. Dibukalah slopnya untuk dipakai menceduk air, setelah air didapat, diberikannya pada anjing yang kehausan tersebut. Subhanallah, dengan ijin ALLOH, terampunilah dosa wanita ini.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Demikianlah, jikalau hati kita mampu meraba derita makhluk lain, insya ALLOH keinginan untuk berbuat baik akan muncul dengan sendirinya.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Kisah lain, ketika suatu waktu ada seseorang terkena penyakit tumor yang sudah menahun. Karena tidak punya biaya untuk berobat, maka berkunjunglah ia kepada orang-orang yang dianggapnya mampu memberi pinjaman biaya.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Bagi orang yang tidak hidup kasih sayang di kalbunya, ketika datang orang yang akan meminjam uang ini, justru yang terlintas dalam pikirannya seolah-olah harta yang dimilikinya akan diambil oleh dia, bukannya memberi, malah dia ketakutan akan hartanya karena disangkanya akan habis atau bahkan jatuh miskin. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Tetapi bagi seorang hamba yang tumbuh kasih sayang di kalbunya, ketika datang yang akan meminjam uang, justru yang muncul rasa iba terhadap penderitaan orang lain. Bahkan jauh di lubuk hatinya yang paling dalam akan membayangkan bagaimana jikalau yang menderita itu dirinya. Terlebih lagi dia sangat menyadari ada hak orang lain yang dititipkan ALLOH dalam hartanya. Karenanya dia begitu ringan memberikan sesuatu kepada orang yang memang membutuhkan bantuannya. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Ingatlah, hidupnya hati hanya dapat dibuktikan dengan apa yang bisa kita lakukan untuk orang lain dengan ikhlas. Apa artinya hidup kalau tidak punya manfaat? Padahal hidup di dunia ini cuma sekali dan itupun hanya mampir sebentar saja. Tidak ada salahnya kita berpikir terus dan bekerja keras untuk menghidupkan kasih sayang di hati ini. Insya ALLOH bagi yang telah tumbuh kasih sayang di kalbunya, ALLOH Azza wa Jalla, Zat yang Maha Melimpah Kasih Sayang-Nya akan mengaruniakan ringannya mencari nafkah dan ringan pula dalam menafkahkannya di jalan ALLOH, ringan dalam mencari ilmu dan ringan pula dalam mengajarkannya kepada orang lain, ringan dalam melatih kemampuan bela diri dan ringan pula dalam membela orang lain yang teraniaya, Subhanallah. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Cara lain yang dianjurkan Rasulullah SAW untuk menghidupkan hati nurani agar senantiasa diliputi nur kasih sayang adalah dengan melakukan banyak silaturahmi kepada orang-orang yang dilanda kesulitan, datang ke daerah terpencil, tengok saudara-saudara kita di rumah sakit, atau pula dengan selalu mengingat umat Islam yang sedang teraniaya, seperti di Bosnia, Checnya, Ambon, Halmahera, atau di tempat-tempat lainnya.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Belajarlah terus untuk melihat orang yang kondisinya jauh di bawah kita, insya ALLOH hati kita akan melembut karena senantiasa tercahayai pancaran sinar kasih sayang. Dan hati-hatilah bagi orang yang bergaulnya hanya dengan orang-orang kaya, orang-orang terkenal, para artis, atau orang-orang elit lainnya, karena yang akan muncul justru rasa minder dan perasaan kurang dan kurang akan dunia ini, Masya ALLOH.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt; &lt;small&gt; &lt;a href="http://chandra354.blog.co.uk/2008/03/05/indahnya-kasih-sayang-3819225/#comments"&gt;Comments&lt;/a&gt; &lt;/small&gt; &lt;/p&gt;</default:description><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[	<p>Mahasuci ALLOH, Zat yang Maha Mengaruniakan kasih sayang kepada makhluk-makhluk Nya. Tidaklah kasih sayang melekat pada diri seseorang, kecuali akan memperindah orang tersebut, dan tidaklah kasih sayang terlepas dari diri seseorang, kecuali akan memperburuk dan menghinakan orang tersebut. </p>
	<p>Betapa tidak? Jikalau kemampuan kita menyayangi orang lain tercabut, maka itulah biang dari segala bencana, karena kasih sayang ALLOH Azza wa Jalla ternyata hanya akan diberikan kepada orang-orang yang masih hidup kasih sayang di kalbunya.</p>
	<p>Karenanya, tidak bisa tidak, kita harus berjuang dengan sekuat tenaga agar hati nurani kita hidup. Tidak berlebihan jikalau kita mengasahnya dengan merasakan keterharuan dari kisah-kisah orang yang rela meluangkan waktu untuk memperhaikan orang lain. Kita dengar bagaimana ada orang yang rela bersusah-payah membacakan buku, koran, atau juga surat kepada orang-orang tuna netra, sehingga mereka bisa belajar, bisa dapat informasi, dan bisa mendapatkan ilmu yang lebih luas.</p>
	<p>Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda, "ALLOH SWT mempunyai seratus rahmat (kasih sayang), dan menurunkan satu rahmat (dari seratus rahmat) kepada jin, manusia, binatang, dan hewan melata. Dengan rahmat itu mereka saling berbelas-kasih dan berkasih sayang, dan dengannya pula binatang-binatang buas menyayangi anak-anaknya. Dan (ALLOH SWT) menangguhkan 99 bagian rahmat itu sebagai kasih sayang-Nya pada hari kiamat nanti." (H.R. Muslim).</p>
	<p>Dari hadis ini nampaklah, bahwa walau hanya satu rahmat-Nya yang diturunkan ke bumi, namun dampaknya bagi seluruh makhluk sungguh luar biasa dahsyatnya. Karenanya, sudah sepantasnya jikalau kita merindukan kasih sayang, perhatian, dan perlindungan ALLOH SWT, tanyakanlah kembali pada diri ini, sampai sejauhmana kita menghidupkan kalbu untuk saling berkasih sayang bersama makhluk lain?</p>
	<p>Kasih sayang dapat diibaratkan sebuah mata air yang selalu bergejolak keinginannya untuk melepaskan beribu-ribu kubik air bening yang membuncah dari dalamnya tanpa pernah habis. Kepada air yang telah mengalir untuk selanjutnya menderas mengikuti alur sungai menuju lautan luas, mata air sama sekali tidak pernah mengharapkan ia kembali. </p>
	<p>Sama pula seperti pancaran sinar cerah matahari di pagi hari, dari dulu sampai sekarang ia terus-menerus memancarkan sinarnya tanpa henti, dan sama pula, matahari tidak mengharap sedikit pun sang cahaya yang telah terpancar kembali pada dirinya. Seharusnya seperti itulah sumber kasih sayang di kalbu kita, ia benar-benar melimpah terus tidak pernah ada habisnya.</p>
	<p>Tidak ada salahnya agar muncul kepekaan kita menyayangi orang lain, kita mengawalinya dengan menyayangi diri kita dulu. Mulailah dengan menghadapkan tubuh ini ke cermin seraya bertanya-tanya: Apakah wajah indah ini akan bercahaya di akhirat nanti, atau justru sebaliknya, wajah ini akan gosong terbakar nyala api jahannam? </p>
	<p>Tataplah hitamnya mata kita, apakah mata ini, mata yang bisa menatap ALLOH, menatap Rasulullah SAW, menatap para kekasih ALLOH di surga kelak, atau malah akan terburai karena kemaksiyatan yang pernah dilakukannya? </p>
	<p>Rabalah bibir manis kita, apakah ia akan bisa tersenyum gembira di surga sana atau malah bibir yang lidahnya akan menjulur tercabik-cabik?! </p>
	<p>Perhatikan tubuh tegap kita, apakah ia akan berpendar penuh cahaya di surga sana, sehingga layak berdampingan dengan si pemiliki tubuh mulia, Rasulullah SAW, atau tubuh ini malah akan membara, menjadi bahan bakar bersama hangusnya batu-batu di kerak neraka jahannam? </p>
	<p>Ketika memandang kaki, tanyakanlah apakah ia senantiasa melangkah di jalan ALLOH sehingga berhak menginjakkannya di surga kelak, atau malah akan dicabik-cabik pisau berduri. </p>
	<p>Memandang mulusnya kulit kita, renungkanlah apakah kulit ini akan menjadi indah bercahaya ataukah akan hitam legam karena gosong dijilat lidah api jahannam? </p>
	<p>Mudah-mudahan dengan bercermin sambil menafakuri diri, kita akan lebih mempunyai kekuatan untuk menjaga diri kita. </p>
	<p>Jangan pula meremehkan makhluk ciptaan ALLOH, sebab tidaklah ALLOH menciptakan makhluk-Nya dengan sia-sia. Semua yang ALLOH ciptakan syarat dengan ilmu, hikmah, dan ladang amal. Semua yang bergerak, yang terlihat, yang terdengar, dan apa saja karunia dari ALLOH adalah jalan bagi kita untuk bertafakur jikalau hati ini bisa merabanya dengan penuh kasih sayang.</p>
	<p>Dikisahkan di hari akhir datang seorang hamba ahli ibadah kepada ALLOH, tetapi ALLOH malah mencapnya sebagai ahli neraka, mengapa? Ternyata karena suatu ketika si ahli ibadah ini pernah mengurung seekor kucing sehingga ia tidak bisa mencari makan dan tidak pula diberi makan oleh si ahli ibadah ini. Akhirnya mati kelaparanlah si kucing ini. Ternyata walau ia seorang ahli ibadah, laknat ALLOH tetap menimpa si ahli ibadah ini, dan ALLOH menetapkannya sebagai seorang ahli neraka, tiada lain karena tidak hidup kasih sayang di kalbunya. </p>
	<p>Tetapi ada kisah sebaliknya, suatu waktu seorang wanita berlumur dosa sedang beristirahat di pinggir sebuah oase yang berair dalam di sebuah lembah padang pasir. Tiba-tiba datanglah seekor anjing yang menjulur-julurkan lidahnya seakan sedang merasakan kehausan yang luar biasa. Walau tidak mungkin terjangkau kerena dalamnya air di oase itu, anjing itu tetap berusaha menjangkaunya, tapi tidak dapat. Melihat kejadian ini, tergeraklah si wanita untuk menolongnya. Dibukalah slopnya untuk dipakai menceduk air, setelah air didapat, diberikannya pada anjing yang kehausan tersebut. Subhanallah, dengan ijin ALLOH, terampunilah dosa wanita ini.</p>
	<p>Demikianlah, jikalau hati kita mampu meraba derita makhluk lain, insya ALLOH keinginan untuk berbuat baik akan muncul dengan sendirinya.</p>
	<p>Kisah lain, ketika suatu waktu ada seseorang terkena penyakit tumor yang sudah menahun. Karena tidak punya biaya untuk berobat, maka berkunjunglah ia kepada orang-orang yang dianggapnya mampu memberi pinjaman biaya.</p>
	<p>Bagi orang yang tidak hidup kasih sayang di kalbunya, ketika datang orang yang akan meminjam uang ini, justru yang terlintas dalam pikirannya seolah-olah harta yang dimilikinya akan diambil oleh dia, bukannya memberi, malah dia ketakutan akan hartanya karena disangkanya akan habis atau bahkan jatuh miskin. </p>
	<p>Tetapi bagi seorang hamba yang tumbuh kasih sayang di kalbunya, ketika datang yang akan meminjam uang, justru yang muncul rasa iba terhadap penderitaan orang lain. Bahkan jauh di lubuk hatinya yang paling dalam akan membayangkan bagaimana jikalau yang menderita itu dirinya. Terlebih lagi dia sangat menyadari ada hak orang lain yang dititipkan ALLOH dalam hartanya. Karenanya dia begitu ringan memberikan sesuatu kepada orang yang memang membutuhkan bantuannya. </p>
	<p>Ingatlah, hidupnya hati hanya dapat dibuktikan dengan apa yang bisa kita lakukan untuk orang lain dengan ikhlas. Apa artinya hidup kalau tidak punya manfaat? Padahal hidup di dunia ini cuma sekali dan itupun hanya mampir sebentar saja. Tidak ada salahnya kita berpikir terus dan bekerja keras untuk menghidupkan kasih sayang di hati ini. Insya ALLOH bagi yang telah tumbuh kasih sayang di kalbunya, ALLOH Azza wa Jalla, Zat yang Maha Melimpah Kasih Sayang-Nya akan mengaruniakan ringannya mencari nafkah dan ringan pula dalam menafkahkannya di jalan ALLOH, ringan dalam mencari ilmu dan ringan pula dalam mengajarkannya kepada orang lain, ringan dalam melatih kemampuan bela diri dan ringan pula dalam membela orang lain yang teraniaya, Subhanallah. </p>
	<p>Cara lain yang dianjurkan Rasulullah SAW untuk menghidupkan hati nurani agar senantiasa diliputi nur kasih sayang adalah dengan melakukan banyak silaturahmi kepada orang-orang yang dilanda kesulitan, datang ke daerah terpencil, tengok saudara-saudara kita di rumah sakit, atau pula dengan selalu mengingat umat Islam yang sedang teraniaya, seperti di Bosnia, Checnya, Ambon, Halmahera, atau di tempat-tempat lainnya.</p>
	<p>Belajarlah terus untuk melihat orang yang kondisinya jauh di bawah kita, insya ALLOH hati kita akan melembut karena senantiasa tercahayai pancaran sinar kasih sayang. Dan hati-hatilah bagi orang yang bergaulnya hanya dengan orang-orang kaya, orang-orang terkenal, para artis, atau orang-orang elit lainnya, karena yang akan muncul justru rasa minder dan perasaan kurang dan kurang akan dunia ini, Masya ALLOH.</p>
<p> <small> <a href="http://chandra354.blog.co.uk/2008/03/05/indahnya-kasih-sayang-3819225/#comments">Comments</a> </small> </p>]]></content:encoded></default:item><default:item xmlns:default="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" rdf:about="http://chandra354.blog.co.uk/2008/03/04/penyakit-hati-su-udzon-3814778/"><default:title>Penyakit Hati ( Su'udzon )</default:title><default:link>http://chandra354.blog.co.uk/2008/03/04/penyakit-hati-su-udzon-3814778/</default:link><dc:date xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">2008-03-04T11:33:10+01:00</dc:date><default:description>	&lt;p&gt;SU'UDZON&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Su'udzon yaitu perkiraan atau lintasan yang berbuah menjadi penyifatan terhadap orang lain dengan segala keburukan yang menimbulkan kedukaan pada orang itu tanpa disertai dengan bukti dan alasan. Dampak su'udzon diantaranya yaitu berkubang dalam berbagai kemaksiatan dan keburukan dengan dalih bahwa Allah swt tidak melihat dan tidak mengetahuinya. Firman Allah swt, "Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Tuhanmu, Dia telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi." (QS Fushshilat: 23)&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Atau dia berdalih bahwa dirinya tidak akan dibangkitkan dan tidak mengakui adanya hisab. Allah swt berfirman, "Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata, 'Ini adalah hakku dan aku tidak yakin bahwa hari kiamat itu akan datang. Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku, maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisi-Nya.' ... " (QS Fushshilat: 50)&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Dampak buruk lainnya dari su'udzon yaitu menyepelekan suatu amal dari aneka amal kebajikan yang sudah dikenal, seperti amal menjenguk orang sakit, melayat jenazah, menjawab salam, memenuhi undangan, memberi nasihat, mendoakan orang yang bersin, menghormati tetangga dan amal-amal lainnya. Orang yang berburuk sangka melakukan amal-amal kebajikan seperti menyuruh kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, bersedekah, mendamaikan kedua pihak yang bermusuhan dan amal-amal lainnya karena riya' dan menginginkan suatu keuntungan.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Islam mengharamkan berburuk sangka kepada Allah swt, Rasulullah saw dan kaum mukminin yang dikenal berperilaku shaleh, berakhlak istiqamah dan hidup dengan bersih. Allah swt berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa ... " (QS al-Hujurat: 12) Rasulullah saw bersabda, "Janganlah salah seorang di antara kamu mati melainkan dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah Ta'ala." (HR Muslim)&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang melakukan su'udzon, diantaranya karena pengaruh lingkungan yang masyarakatnya berakhlak buruk.Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya perumpamaan berteman dengan orang yang baik dan dengan orang yang buruk adalah seperti berteman dengan penjual parfum dan peniup api pada pandai besi. Jika kamu berteman dengan penjual parfum, maka boleh jadi kamu diolesi parfum atau minimal mendapatkan bau harum darinya. Adapun jika kamu berteman dengan peniup api, maka boleh jadi bajumu terbakar atau kamu mendapatkan bau yang tidak sedap." (HR Bukhari dan Muslim)&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Faktor lainnya yang menyebabkan seseorang bersu'udzon karena melakukan aneka kemaksiatan dan perbuatan buruk lainnya yang dilakukan secara terang-terangan. Rasulullah saw bersabda, "Seluruh dosa umatku dimaafkan kecuali dosa yang dilakukan secara terang-terangan. Termasuk terang-terangan ialah bila seseorang berbuat dosa pada malam hari, kemudian pada pagi harinya Allah menutupinya. Dia berkata kepada orang lain, 'Hai Fulan, semalam aku melakukan perbuatan ini dan itu.'" (HR Bukhari dan Muslim)&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Berburuk sangka akan berakibat buruk, diantaranya terjerumus ke dalam aneka kemaksiatan dan keburukan. Akibat lainnya yaitu tidak beramal kebajikan dan tidak mengamalkan ketaatan. Menjadi sasaran kebencian kebanyakan manusia. Seseorang yang diketahui telah berburuk sangka dan ternyata sangkaannya itu hanya sekedar tuduhan yang tidak berdasarkan bukti dan argumentasi yang kuat, maka orang yang telah berburuk sangka tersebut akan dijauhi dan dibenci oleh orang lain. Ini merupakan sunatullah yang berlaku pada makhluk-Nya. Seseorang yang berburuk akan menerima kemurkaan Allah swt. Firman Allah swt, " ... Dan barangsiapa yang ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah dia." (QS Thaha: 81)&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Penyakit berburuk sangka dapat diobati dengan membangun akidah yang sehat dan berdiri di atas landasan berbaik sangka kepada Allah, Rasulullah dan kaum mukmin yang sholih. Sikap berbaik sangka tersebut akan melindungi diri kita dari sikap berburuk sangka. Jika kita telah terlanjur berburuk sangka, segeralah bertobat. Meninggalkan segala macam bentuk kemaksiatan dan melakukan berbagai amal kebajikan secara terus menerus. Mendewasakan diri dengan berpegang teguh terhadap etika Islam dalam memutuskan persoalan dan menghukumi seseorang. Diantara etika Islam tersebut adalah berpegang teguh pada aspek lahiriah dan menyerahkan urusan batiniahnya kepada Allah swt.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt; &lt;small&gt; &lt;a href="http://chandra354.blog.co.uk/2008/03/04/penyakit-hati-su-udzon-3814778/#comments"&gt;Comments&lt;/a&gt; &lt;/small&gt; &lt;/p&gt;</default:description><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[	<p>SU'UDZON</p>
	<p>Su'udzon yaitu perkiraan atau lintasan yang berbuah menjadi penyifatan terhadap orang lain dengan segala keburukan yang menimbulkan kedukaan pada orang itu tanpa disertai dengan bukti dan alasan. Dampak su'udzon diantaranya yaitu berkubang dalam berbagai kemaksiatan dan keburukan dengan dalih bahwa Allah swt tidak melihat dan tidak mengetahuinya. Firman Allah swt, "Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Tuhanmu, Dia telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi." (QS Fushshilat: 23)</p>
	<p>Atau dia berdalih bahwa dirinya tidak akan dibangkitkan dan tidak mengakui adanya hisab. Allah swt berfirman, "Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata, 'Ini adalah hakku dan aku tidak yakin bahwa hari kiamat itu akan datang. Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku, maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisi-Nya.' ... " (QS Fushshilat: 50)</p>
	<p>Dampak buruk lainnya dari su'udzon yaitu menyepelekan suatu amal dari aneka amal kebajikan yang sudah dikenal, seperti amal menjenguk orang sakit, melayat jenazah, menjawab salam, memenuhi undangan, memberi nasihat, mendoakan orang yang bersin, menghormati tetangga dan amal-amal lainnya. Orang yang berburuk sangka melakukan amal-amal kebajikan seperti menyuruh kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, bersedekah, mendamaikan kedua pihak yang bermusuhan dan amal-amal lainnya karena riya' dan menginginkan suatu keuntungan.</p>
	<p>Islam mengharamkan berburuk sangka kepada Allah swt, Rasulullah saw dan kaum mukminin yang dikenal berperilaku shaleh, berakhlak istiqamah dan hidup dengan bersih. Allah swt berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa ... " (QS al-Hujurat: 12) Rasulullah saw bersabda, "Janganlah salah seorang di antara kamu mati melainkan dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah Ta'ala." (HR Muslim)</p>
	<p>Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang melakukan su'udzon, diantaranya karena pengaruh lingkungan yang masyarakatnya berakhlak buruk.Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya perumpamaan berteman dengan orang yang baik dan dengan orang yang buruk adalah seperti berteman dengan penjual parfum dan peniup api pada pandai besi. Jika kamu berteman dengan penjual parfum, maka boleh jadi kamu diolesi parfum atau minimal mendapatkan bau harum darinya. Adapun jika kamu berteman dengan peniup api, maka boleh jadi bajumu terbakar atau kamu mendapatkan bau yang tidak sedap." (HR Bukhari dan Muslim)</p>
	<p>Faktor lainnya yang menyebabkan seseorang bersu'udzon karena melakukan aneka kemaksiatan dan perbuatan buruk lainnya yang dilakukan secara terang-terangan. Rasulullah saw bersabda, "Seluruh dosa umatku dimaafkan kecuali dosa yang dilakukan secara terang-terangan. Termasuk terang-terangan ialah bila seseorang berbuat dosa pada malam hari, kemudian pada pagi harinya Allah menutupinya. Dia berkata kepada orang lain, 'Hai Fulan, semalam aku melakukan perbuatan ini dan itu.'" (HR Bukhari dan Muslim)</p>
	<p>Berburuk sangka akan berakibat buruk, diantaranya terjerumus ke dalam aneka kemaksiatan dan keburukan. Akibat lainnya yaitu tidak beramal kebajikan dan tidak mengamalkan ketaatan. Menjadi sasaran kebencian kebanyakan manusia. Seseorang yang diketahui telah berburuk sangka dan ternyata sangkaannya itu hanya sekedar tuduhan yang tidak berdasarkan bukti dan argumentasi yang kuat, maka orang yang telah berburuk sangka tersebut akan dijauhi dan dibenci oleh orang lain. Ini merupakan sunatullah yang berlaku pada makhluk-Nya. Seseorang yang berburuk akan menerima kemurkaan Allah swt. Firman Allah swt, " ... Dan barangsiapa yang ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah dia." (QS Thaha: 81)</p>
	<p>Penyakit berburuk sangka dapat diobati dengan membangun akidah yang sehat dan berdiri di atas landasan berbaik sangka kepada Allah, Rasulullah dan kaum mukmin yang sholih. Sikap berbaik sangka tersebut akan melindungi diri kita dari sikap berburuk sangka. Jika kita telah terlanjur berburuk sangka, segeralah bertobat. Meninggalkan segala macam bentuk kemaksiatan dan melakukan berbagai amal kebajikan secara terus menerus. Mendewasakan diri dengan berpegang teguh terhadap etika Islam dalam memutuskan persoalan dan menghukumi seseorang. Diantara etika Islam tersebut adalah berpegang teguh pada aspek lahiriah dan menyerahkan urusan batiniahnya kepada Allah swt.</p>
<p> <small> <a href="http://chandra354.blog.co.uk/2008/03/04/penyakit-hati-su-udzon-3814778/#comments">Comments</a> </small> </p>]]></content:encoded></default:item><default:item xmlns:default="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" rdf:about="http://chandra354.blog.co.uk/2008/02/29/penyakit-hati-kagum-diri-merasa-pol-dewe-3795432/"><default:title>Penyakit Hati ( Kagum Diri, Merasa Pol Dewe )</default:title><default:link>http://chandra354.blog.co.uk/2008/02/29/penyakit-hati-kagum-diri-merasa-pol-dewe-3795432/</default:link><dc:date xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">2008-02-29T03:45:13+01:00</dc:date><default:description>	&lt;p&gt;Kagum diri dapat diartikan suatu penyakit hati yang membuat seseorang merasa bahagia dengan pujian dari orang lain dan merasa diri paling baik melebihi orang lain. Faktor-faktor penyebab sikap kagum diri, diantaranya pujian yang diberikan kepada seseorang secara berlebihan dan tanpa mengindahkan tata cara yang ditetapkan syariat Islam dalam memberikan pujian kepada seseorang. Pujian tersebut mempengaruhi orang yang dipuji. Dia akan merasa mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Ini akan membuat orang yang dipuji merasa kagum pada diri sendiri. Tata cara atau etika memuji dalam syariat Islam ada tiga yaitu tidak boleh berlebihan, ditujukan untuk hal-hal yang benar dan tidak menimbulkan fitnah, yaitu membuat orang yang dipuji menjadi kagum pada dirinya sendiri. Apabila tata cara tersebut dapat dipenuhi, maka seseorang boleh memuji orang lain.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Dari Abdurahman bin Abi Bakrah dari ayahnnya menceritakan bahwa ada seseorang memuji orang lain dihadapan Rasulullah saw. Rasulullah saw lalu bersabda, "Celaka engkau! Engkau memotong leher saudaramu." Rasulullah saw mengulangi beberapa kali perkataan tersebut. Kemudian Rasulullah saw bersabda, "Apabila engkau terpaksa harus memuji seseorang, hendaknya engkau berkata, 'Sepanjang yang aku ketahui tentang dia-dan Allah juga mengetahui tentang dia dan saya tidak dapat menyembunyikan dia dihadapan Allah-dia begini dan begitu.'"&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Faktor lainnya yang menyebabkan seseorang kagum diri yaitu orang yang kagum diri hanya memperhatikan nikmat yang didapatinya tanpa memperhatikan Dzat yang memberikannya. Ia merasa nikmat tersebut didapatnya karena kepandaiannya, bukan karena pemberian Allah swt, seperti anggapan Qarun. Allah swt menceritakan perkataan Qarun mengenai harta yang dimilikinya dalam Al Qur'an, "Qarun berkata, 'Sesungguhnnya aku diberi harta itu hanya karena ilmu yang ada padaku.'" (QS al-Qashash: 78)&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Orang yang kagum diri lupa atau pura-pura lupa bahwa segala kenikmatan yang diperolehnya semuanya hanya berasal dari Allah swt. Allah swt berfirman: Dan apa saja yang ada di langit dan di bumi, maka itu dari Allah (datangnya). (QS an-Nahl: 53) Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Lalu Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur. (QS an-Nahl: 78) Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, maka mengapa kamu berpaling (dari-Nya). (QS Fathir: 3)&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Lalai atau tidak memahami hakikat diri dapat menyebabkan seseorang menjadi kagum diri. Seseorang yang kagum diri, tidak sadar akan hakikat dirinya, bahwa dirinya berasal dari air yang hina yang keluar dari tempat keluarnya air kencing, selalu berada di dalam kekurangan sepanjang hidupnya dan akan kembali ke dalam tanah menjadi bangkai. Selain tidak memahami hakikat dirinya, seseorang juga dapat menjadi kagum diri karena dia selalu mendapatkan penghormatan yang berlebihan dari masyarakat, yang bertentangan dengan ajaran Islam. Misalnya, orang-orang berdiri cukup lama untuk menghormatinya, mencium tangan, menundukkan kepala mereka sampai berlebihan, berjalan dibelakangnya dan penghormatan yang berlebihan lainnya.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Seseorang yang mendapatkan ketaatan yang berlebihan dari orang lain, yang lepas dari ketentuan-ketentuan Allah swt. Apapun kehendaknya selalu dipenuhi, baik kehendak tersebut baik atau buruk. Ini pada akhirnnya dapat menjadikan seseorang kagum diri. Rasulullah saw bersabda, "Wajib atas orang Muslim untuk taat (kepada pemimpinnya), suka atau tidak suka, kecuali jika ia diperintahkan untuk berbuat maksiat kepada Allah. Apabila seorang pemimpin memerintahkannya melakukan maksiat, maka dia tidak boleh mematuhinya."&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Semoga Alloh menghindarkan diri kita dari sifat ini. Amin.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt; &lt;small&gt; &lt;a href="http://chandra354.blog.co.uk/2008/02/29/penyakit-hati-kagum-diri-merasa-pol-dewe-3795432/#comments"&gt;Comments&lt;/a&gt; &lt;/small&gt; &lt;/p&gt;</default:description><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[	<p>Kagum diri dapat diartikan suatu penyakit hati yang membuat seseorang merasa bahagia dengan pujian dari orang lain dan merasa diri paling baik melebihi orang lain. Faktor-faktor penyebab sikap kagum diri, diantaranya pujian yang diberikan kepada seseorang secara berlebihan dan tanpa mengindahkan tata cara yang ditetapkan syariat Islam dalam memberikan pujian kepada seseorang. Pujian tersebut mempengaruhi orang yang dipuji. Dia akan merasa mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Ini akan membuat orang yang dipuji merasa kagum pada diri sendiri. Tata cara atau etika memuji dalam syariat Islam ada tiga yaitu tidak boleh berlebihan, ditujukan untuk hal-hal yang benar dan tidak menimbulkan fitnah, yaitu membuat orang yang dipuji menjadi kagum pada dirinya sendiri. Apabila tata cara tersebut dapat dipenuhi, maka seseorang boleh memuji orang lain.</p>
	<p>Dari Abdurahman bin Abi Bakrah dari ayahnnya menceritakan bahwa ada seseorang memuji orang lain dihadapan Rasulullah saw. Rasulullah saw lalu bersabda, "Celaka engkau! Engkau memotong leher saudaramu." Rasulullah saw mengulangi beberapa kali perkataan tersebut. Kemudian Rasulullah saw bersabda, "Apabila engkau terpaksa harus memuji seseorang, hendaknya engkau berkata, 'Sepanjang yang aku ketahui tentang dia-dan Allah juga mengetahui tentang dia dan saya tidak dapat menyembunyikan dia dihadapan Allah-dia begini dan begitu.'"</p>
	<p>Faktor lainnya yang menyebabkan seseorang kagum diri yaitu orang yang kagum diri hanya memperhatikan nikmat yang didapatinya tanpa memperhatikan Dzat yang memberikannya. Ia merasa nikmat tersebut didapatnya karena kepandaiannya, bukan karena pemberian Allah swt, seperti anggapan Qarun. Allah swt menceritakan perkataan Qarun mengenai harta yang dimilikinya dalam Al Qur'an, "Qarun berkata, 'Sesungguhnnya aku diberi harta itu hanya karena ilmu yang ada padaku.'" (QS al-Qashash: 78)</p>
	<p>Orang yang kagum diri lupa atau pura-pura lupa bahwa segala kenikmatan yang diperolehnya semuanya hanya berasal dari Allah swt. Allah swt berfirman: Dan apa saja yang ada di langit dan di bumi, maka itu dari Allah (datangnya). (QS an-Nahl: 53) Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Lalu Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur. (QS an-Nahl: 78) Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, maka mengapa kamu berpaling (dari-Nya). (QS Fathir: 3)</p>
	<p>Lalai atau tidak memahami hakikat diri dapat menyebabkan seseorang menjadi kagum diri. Seseorang yang kagum diri, tidak sadar akan hakikat dirinya, bahwa dirinya berasal dari air yang hina yang keluar dari tempat keluarnya air kencing, selalu berada di dalam kekurangan sepanjang hidupnya dan akan kembali ke dalam tanah menjadi bangkai. Selain tidak memahami hakikat dirinya, seseorang juga dapat menjadi kagum diri karena dia selalu mendapatkan penghormatan yang berlebihan dari masyarakat, yang bertentangan dengan ajaran Islam. Misalnya, orang-orang berdiri cukup lama untuk menghormatinya, mencium tangan, menundukkan kepala mereka sampai berlebihan, berjalan dibelakangnya dan penghormatan yang berlebihan lainnya.</p>
	<p>Seseorang yang mendapatkan ketaatan yang berlebihan dari orang lain, yang lepas dari ketentuan-ketentuan Allah swt. Apapun kehendaknya selalu dipenuhi, baik kehendak tersebut baik atau buruk. Ini pada akhirnnya dapat menjadikan seseorang kagum diri. Rasulullah saw bersabda, "Wajib atas orang Muslim untuk taat (kepada pemimpinnya), suka atau tidak suka, kecuali jika ia diperintahkan untuk berbuat maksiat kepada Allah. Apabila seorang pemimpin memerintahkannya melakukan maksiat, maka dia tidak boleh mematuhinya."</p>
	<p>Semoga Alloh menghindarkan diri kita dari sifat ini. Amin.</p>
<p> <small> <a href="http://chandra354.blog.co.uk/2008/02/29/penyakit-hati-kagum-diri-merasa-pol-dewe-3795432/#comments">Comments</a> </small> </p>]]></content:encoded></default:item><default:item xmlns:default="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" rdf:about="http://chandra354.blog.co.uk/2008/02/22/penyakit_hati_riya_aamp_sum_ah~3763116/"><default:title>Penyakit Hati  ( Riya' &amp;  Sum'ah )</default:title><default:link>http://chandra354.blog.co.uk/2008/02/22/penyakit_hati_riya_aamp_sum_ah~3763116/</default:link><dc:date xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">2008-02-22T04:01:31+01:00</dc:date><default:description>	&lt;p&gt;RIYA' DAN SUM'AH&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Riya' (pamer penglihatan) dan Sum'ah (pamer pendengaran) merupakan salah satu penyakit hati yang membuat seseorang ingin memperlihatkan amalnya kepada orang lain dengan tujuan mendapatkan kehormatan, kedudukan, pujian atau hal-hal yang bersifat keduniaan dari orang lain. Jika seseorang beramal dengan tujuan untuk dilihat orang lain maka itu dinamakan riya'. &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Allah swt berfirman, "Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima, seperti orang yang menafkahkan hartanya karena pamer kepada manusia ..." (QS al-Baqarah: 264) Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah syirik kecil." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah syirik kecil itu?" Rasulullah saw menjawab, "Riya'. Allah swt berfirman, 'Apabila hamba-hamba Allah bisa saling membalas dengan amal-amal mereka pada hari kiamat, maka pergilah kamu kepada orang-orang yang pernah kamu perlihatkan amalmu di hadapan mereka ketika di dunia. Lihatlah, apakah kamu mendapatkan balasan dari mereka.'" (HR Ahmad) &lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang bersikap riya' diantaranya, adalah lingkungan keluarga. Anak yang tumbuh di lingkungan keluarga yang suka riya' dapat mempengaruhi anak untuk berbuat riya' juga. Inilah salah satu sebab mengapa Rasulullah saw menganjurkan agar dalam memilih calon istri, sebaiknya memilih berdasarkan agamanya. Rasulullah saw bersabda, " ... Pilihlah wanita (untuk dinikahi) berdasarkan agamanya, maka kamu akan berbahagia." (HR Abu Daud dan Ibnu Majah) "Jika datang (melamar) kepadamu seseorang yang kamu sukai akhlak dan agamanya, maka nikahkanlah (terimalah) dia." (HR Tirmidzi)&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Seseorang bersikap riya' dapat juga disebabkan pengaruh dari pergaulan dengan teman-temannya yang beramal hanya untuk pamer. Oleh karena itu, dalam memilih teman, setiap muslim harus bersikap selektif dan mencari teman yang baik, yang menghormati dan mengamalkan ajaran agamanya. Seseorang yang tidak mengenal Allah swt dengan baik, dapat menyebabkan seseorang bersikap riya'. Seseorang yang mengenal Allah swt dengan baik, tentu tidak akan bersikap riya' karena dia yakin sikap riya' tidak akan memberikan manfaat apapun kepada dirinya karena dia mengetahui bahwa orang lain tidak dapat memberikan mudarat atau maslahat kepada dirinya. Seseorang bersikap riya' dapat juga karena menginginkan harta. Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa berperang karena menginginkan zakat onta, maka baginya apa yang dia niatkan." (HR an-Nasa'i dan Ahmad)&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Tanda-tanda orang yang bersikap riya' yaitu rajin dan melipatgandakan amal sholih jika mendapat pujian atau berada di antara orang banyak tetapi malas dan enggan beramal saleh jika tidak mendapat pujian atau tidak ada orang lain yang melihatnya. Termasuk orang yang riya' yaitu tidak melanggar larangan Allah swt jika berada di antara orang banyak dan melanggarnya ketika sedang sendirian. Rasulullah saw bersabda, "Sungguh saya mengetahui suatu kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan membawa amal-amal baik yang banyak, bagai salju menutupi gunung. Tetapi Allah menjadikan amal-amal tersebut seperti debu yang berterbangan. Padahal mereka itu adalah saudara-saudaramu dan kulit mereka juga seperti kulitmu. Mereka beribadah di waktu malam sebagaimana yang kamu lakukan juga. Tetapi mereka melanggar larangan-larangan Allah ketika sedang sendirian." (HR Ibnu Majah)&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Sikap riya' yang dilakukan dapat berakibat buruk bagi yang melakukannya, diantaranya ialah tertutupnya hidayah dan petunjuk Allah swt. Firman Allah, Maka tatkala mereka berpaling, Allah memalingkan hati mereka. Dan Dia tidak akan memberikan hidayah kepada kaum yang fasik. (QS as-Shaf: 5) Seseorang yang riya' - dimana ia melakukan amal saleh karena mencari keridhaan orang banyak dan mengharapkan imbalan materi ? terkadang harapan dan keinginannya tidak terwujud karena tidak sesuai dengan ketetapan dan takdir Allah. Ketika harapan dan keinginannya tidak terwujud, maka terasa sempitlah kehidupannya dan gelisahlah hatinya. Sebab, dia tidak mendapatkan ridha Allah dan tidak memperoleh hasil yang diharapkan dari orang banyak. Allah berfirman, Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit. Dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. (QS Thaha: 124)&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Sikap riya' akan menghilangkan rasa hormat dari masyarakat kepada dirinya. Hal ini karena Allah akan mencabut rasa hormat masyarakat kepada seseorang yang bersikap riya'. Allah berfirman, " ... Dan barangsiapa dihinakan Allah, maka tidak ada seorangpun yang memuliakannya ... " (QS al-Hajj: 18)&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Seseorang yang riya' akan membatalkan amal ibadahnya karena orang yang riya' orientasinya dalam beribadah adalah kepada makhluk bukan kepada Khaliq. Allah swt telah mengisyaratkan dampak buruk ini dalam firman-Nya, " ... Dan apabila mereka berdiri untuk bershalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud pamer (dengan shalatnya) dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali." (QS an-Nisa': 142) Seseorang yang menyia-nyiakan amal ibadahnya dengan melakukan riya', maka balasan yang dia peroleh di akhirat adalah siksaan yang berat. Rasulullah saw bersabda, "Orang yang pertama-tama diadili kelak di hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Ia dihadapkan ke pengadilan, lalu diajukan kepadanya nikmat-nikmat yang telah dia peroleh dan dia mengakuinya. Lalu Allah swt bertanya kepadanya, 'Apa yang telah engkau perbuat dengan nikmat itu?' Ia menjawab, 'Aku berperang di jalan-Mu hingga aku mati syahid.' Allah swt berkata, 'Engkau berdusta! Sesungguhnya engkau berperang supaya disebut pemberani dan sebutan itu telah engkau peroleh.' Kemudian ia diseret dengan muka telungkup dan dilemparkan ke neraka.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Selanjutnya dihadapkan orang alim yang belajar dan mengajarkan ilmunya serta membaca Al-Qur'an. Diajukan kepadanya nikmat-nikmat yang telah diperolehnya dan dia mengakuinya. Lalu Allah swt bertanya kepadanya, 'Apa yang engkau perbuat dengan nikmat itu?' Ia menjawab, 'Aku belajar, mengajar dan membaca Al-Qur'an karena Engkau.' Allah swt berkata, 'Engkau berdusta! Sesungguhnya engkau belajar supaya disebut sebagai orang alim dan engkau membaca Al-Qur'an supaya disebut sebagai qari' (ahli baca) dan sebutan itu telah engkau peroleh.' Kemudian ia diseret dengan muka telungkup ke tanah dan dilemparkan ke neraka.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Sesudah itu dihadapkan orang yang diberi kekayaan oleh Allah dengan berbagai macam harta. Diajukan kepadanya nikmat yang telah diperolehnya dan dia pun mengakuinya. Lalu Allah swt bertanya, 'Apa yang engkau perbuat dengan hartamu itu?' Ia menjawab, 'Aku tidak melewatkan satu jalan pun yang Engkau sukai seseorang menginfakkan harta di dalamnya kecuali aku melakukannya karena Engkau.' Allah swt berkata, 'Engkau berdusta! Sesunggguhnya engkau melakukan itu supaya disebut pemurah dan sebutan itu telah engkau dapatkan.' Kemudian ia diseret dengan muka telungkup ke tanah dan dilemparkan ke neraka." (HR Muslim dan Nasa'i)&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Rasulullah saw bersabda, "Kelak di hari kiamat, seseorang akan dihadapkan dan dilemparkan ke neraka. Maka berserakanlah isi perutnya keluar, lalu ia diputar-putar dengan itu seperti keledai memutari kilangan. Kemudian penduduk neraka menghampirinya dan bertanya, 'Wahai fulan, apa dosamu? Bukankah engkau suka beramar makruf nahi munkar?' Ia menjawab, 'Ya, aku memang menyuruh yang makruf, tetapi aku sendiri tidak melakukannya; aku melarang yang munkar, tetapi aku sendiri melanggarnya." (HR Muslim)&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Penyakit riya' ini dapat dihilangkan atau dihindari dengan cara yaitu selalu ingat akan dampak buruk penyakit ini bagi kehidupan di dunia dan di akhirat; Menjauhkan diri bergaul dengan orang-orang yang suka riya' dan bergaul dengan orang-orang yang benar dan ikhlas dalam beribadah; Mengenal Allah swt dengan sebenar-benarnya. Mengenal Allah swt dapat dilakukan dengan menjalani hidup di dunia ini berdasarkan Al-Qur'an dan sunah Nabi saw; Kesungguhan hati untuk menghilangkan tindakan-tindakan yang mengarah pada sikap riya'. Misalnya cinta kedudukan atau kehormatan, suka mendapat pujian dari orang lain dan sebagainya; Bekerja sama dalam segala urusan; Mengikuti adab (etika) Islam dalam pergaulan. Dengan demikian, tidak berlebihan dalam memberikan pujian kepada orang lain dan tidak meremehkan orang lain; Berlindung dan memohon pertolongan kepada Allah swt. Barangsiapa berlindung dan memohon pertolongan kepada Allah swt - dan dia berada dalam kebenaran - maka Allah swt akan memantapkan hati dan menolong hamba-Nya; Menyadari bahwa segala sesuatu di alam ini berjalan sesuai dengan takdir Allah swt. Allah swt berfirman, "Tiada sesuatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah." (QS al-Hadid: 22)&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Sesungguhnya makhluk sekuat dan sekuasa apa pun, dia tidak mampu memberi manfaat dan menolak bahaya dari dirinya atau orang lain. Allah swt berfirman, "Sesungguhnya makhluk-makhluk yang kamu seru selain Allah itu adalah hamba-hamba yang serupa dengan kamu. Maka serulah makhluk-makhluk itu dan biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu jika kamu memang orang-orang yang benar." (QS al-A'raf: 19) "Sesungguhnya mereka (Bani Israil) sekali-kali tidak akan dapat menjauhkan (menolak)-mu dari siksaan Allah.." (QS al-Jatsiah: 19)&lt;/p&gt;
&lt;p&gt; &lt;small&gt; &lt;a href="http://chandra354.blog.co.uk/2008/02/22/penyakit_hati_riya_aamp_sum_ah~3763116/#comments"&gt;Comments&lt;/a&gt; &lt;/small&gt; &lt;/p&gt;</default:description><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[	<p>RIYA' DAN SUM'AH</p>
	<p>Riya' (pamer penglihatan) dan Sum'ah (pamer pendengaran) merupakan salah satu penyakit hati yang membuat seseorang ingin memperlihatkan amalnya kepada orang lain dengan tujuan mendapatkan kehormatan, kedudukan, pujian atau hal-hal yang bersifat keduniaan dari orang lain. Jika seseorang beramal dengan tujuan untuk dilihat orang lain maka itu dinamakan riya'. </p>
	<p>Allah swt berfirman, "Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima, seperti orang yang menafkahkan hartanya karena pamer kepada manusia ..." (QS al-Baqarah: 264) Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah syirik kecil." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah syirik kecil itu?" Rasulullah saw menjawab, "Riya'. Allah swt berfirman, 'Apabila hamba-hamba Allah bisa saling membalas dengan amal-amal mereka pada hari kiamat, maka pergilah kamu kepada orang-orang yang pernah kamu perlihatkan amalmu di hadapan mereka ketika di dunia. Lihatlah, apakah kamu mendapatkan balasan dari mereka.'" (HR Ahmad) </p>
	<p>Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang bersikap riya' diantaranya, adalah lingkungan keluarga. Anak yang tumbuh di lingkungan keluarga yang suka riya' dapat mempengaruhi anak untuk berbuat riya' juga. Inilah salah satu sebab mengapa Rasulullah saw menganjurkan agar dalam memilih calon istri, sebaiknya memilih berdasarkan agamanya. Rasulullah saw bersabda, " ... Pilihlah wanita (untuk dinikahi) berdasarkan agamanya, maka kamu akan berbahagia." (HR Abu Daud dan Ibnu Majah) "Jika datang (melamar) kepadamu seseorang yang kamu sukai akhlak dan agamanya, maka nikahkanlah (terimalah) dia." (HR Tirmidzi)</p>
	<p>Seseorang bersikap riya' dapat juga disebabkan pengaruh dari pergaulan dengan teman-temannya yang beramal hanya untuk pamer. Oleh karena itu, dalam memilih teman, setiap muslim harus bersikap selektif dan mencari teman yang baik, yang menghormati dan mengamalkan ajaran agamanya. Seseorang yang tidak mengenal Allah swt dengan baik, dapat menyebabkan seseorang bersikap riya'. Seseorang yang mengenal Allah swt dengan baik, tentu tidak akan bersikap riya' karena dia yakin sikap riya' tidak akan memberikan manfaat apapun kepada dirinya karena dia mengetahui bahwa orang lain tidak dapat memberikan mudarat atau maslahat kepada dirinya. Seseorang bersikap riya' dapat juga karena menginginkan harta. Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa berperang karena menginginkan zakat onta, maka baginya apa yang dia niatkan." (HR an-Nasa'i dan Ahmad)</p>
	<p>Tanda-tanda orang yang bersikap riya' yaitu rajin dan melipatgandakan amal sholih jika mendapat pujian atau berada di antara orang banyak tetapi malas dan enggan beramal saleh jika tidak mendapat pujian atau tidak ada orang lain yang melihatnya. Termasuk orang yang riya' yaitu tidak melanggar larangan Allah swt jika berada di antara orang banyak dan melanggarnya ketika sedang sendirian. Rasulullah saw bersabda, "Sungguh saya mengetahui suatu kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan membawa amal-amal baik yang banyak, bagai salju menutupi gunung. Tetapi Allah menjadikan amal-amal tersebut seperti debu yang berterbangan. Padahal mereka itu adalah saudara-saudaramu dan kulit mereka juga seperti kulitmu. Mereka beribadah di waktu malam sebagaimana yang kamu lakukan juga. Tetapi mereka melanggar larangan-larangan Allah ketika sedang sendirian." (HR Ibnu Majah)</p>
	<p>Sikap riya' yang dilakukan dapat berakibat buruk bagi yang melakukannya, diantaranya ialah tertutupnya hidayah dan petunjuk Allah swt. Firman Allah, Maka tatkala mereka berpaling, Allah memalingkan hati mereka. Dan Dia tidak akan memberikan hidayah kepada kaum yang fasik. (QS as-Shaf: 5) Seseorang yang riya' - dimana ia melakukan amal saleh karena mencari keridhaan orang banyak dan mengharapkan imbalan materi ? terkadang harapan dan keinginannya tidak terwujud karena tidak sesuai dengan ketetapan dan takdir Allah. Ketika harapan dan keinginannya tidak terwujud, maka terasa sempitlah kehidupannya dan gelisahlah hatinya. Sebab, dia tidak mendapatkan ridha Allah dan tidak memperoleh hasil yang diharapkan dari orang banyak. Allah berfirman, Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit. Dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. (QS Thaha: 124)</p>
	<p>Sikap riya' akan menghilangkan rasa hormat dari masyarakat kepada dirinya. Hal ini karena Allah akan mencabut rasa hormat masyarakat kepada seseorang yang bersikap riya'. Allah berfirman, " ... Dan barangsiapa dihinakan Allah, maka tidak ada seorangpun yang memuliakannya ... " (QS al-Hajj: 18)</p>
	<p>Seseorang yang riya' akan membatalkan amal ibadahnya karena orang yang riya' orientasinya dalam beribadah adalah kepada makhluk bukan kepada Khaliq. Allah swt telah mengisyaratkan dampak buruk ini dalam firman-Nya, " ... Dan apabila mereka berdiri untuk bershalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud pamer (dengan shalatnya) dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali." (QS an-Nisa': 142) Seseorang yang menyia-nyiakan amal ibadahnya dengan melakukan riya', maka balasan yang dia peroleh di akhirat adalah siksaan yang berat. Rasulullah saw bersabda, "Orang yang pertama-tama diadili kelak di hari kiamat adalah orang yang mati syahid. Ia dihadapkan ke pengadilan, lalu diajukan kepadanya nikmat-nikmat yang telah dia peroleh dan dia mengakuinya. Lalu Allah swt bertanya kepadanya, 'Apa yang telah engkau perbuat dengan nikmat itu?' Ia menjawab, 'Aku berperang di jalan-Mu hingga aku mati syahid.' Allah swt berkata, 'Engkau berdusta! Sesungguhnya engkau berperang supaya disebut pemberani dan sebutan itu telah engkau peroleh.' Kemudian ia diseret dengan muka telungkup dan dilemparkan ke neraka.</p>
	<p>Selanjutnya dihadapkan orang alim yang belajar dan mengajarkan ilmunya serta membaca Al-Qur'an. Diajukan kepadanya nikmat-nikmat yang telah diperolehnya dan dia mengakuinya. Lalu Allah swt bertanya kepadanya, 'Apa yang engkau perbuat dengan nikmat itu?' Ia menjawab, 'Aku belajar, mengajar dan membaca Al-Qur'an karena Engkau.' Allah swt berkata, 'Engkau berdusta! Sesungguhnya engkau belajar supaya disebut sebagai orang alim dan engkau membaca Al-Qur'an supaya disebut sebagai qari' (ahli baca) dan sebutan itu telah engkau peroleh.' Kemudian ia diseret dengan muka telungkup ke tanah dan dilemparkan ke neraka.</p>
	<p>Sesudah itu dihadapkan orang yang diberi kekayaan oleh Allah dengan berbagai macam harta. Diajukan kepadanya nikmat yang telah diperolehnya dan dia pun mengakuinya. Lalu Allah swt bertanya, 'Apa yang engkau perbuat dengan hartamu itu?' Ia menjawab, 'Aku tidak melewatkan satu jalan pun yang Engkau sukai seseorang menginfakkan harta di dalamnya kecuali aku melakukannya karena Engkau.' Allah swt berkata, 'Engkau berdusta! Sesunggguhnya engkau melakukan itu supaya disebut pemurah dan sebutan itu telah engkau dapatkan.' Kemudian ia diseret dengan muka telungkup ke tanah dan dilemparkan ke neraka." (HR Muslim dan Nasa'i)</p>
	<p>Rasulullah saw bersabda, "Kelak di hari kiamat, seseorang akan dihadapkan dan dilemparkan ke neraka. Maka berserakanlah isi perutnya keluar, lalu ia diputar-putar dengan itu seperti keledai memutari kilangan. Kemudian penduduk neraka menghampirinya dan bertanya, 'Wahai fulan, apa dosamu? Bukankah engkau suka beramar makruf nahi munkar?' Ia menjawab, 'Ya, aku memang menyuruh yang makruf, tetapi aku sendiri tidak melakukannya; aku melarang yang munkar, tetapi aku sendiri melanggarnya." (HR Muslim)</p>
	<p>Penyakit riya' ini dapat dihilangkan atau dihindari dengan cara yaitu selalu ingat akan dampak buruk penyakit ini bagi kehidupan di dunia dan di akhirat; Menjauhkan diri bergaul dengan orang-orang yang suka riya' dan bergaul dengan orang-orang yang benar dan ikhlas dalam beribadah; Mengenal Allah swt dengan sebenar-benarnya. Mengenal Allah swt dapat dilakukan dengan menjalani hidup di dunia ini berdasarkan Al-Qur'an dan sunah Nabi saw; Kesungguhan hati untuk menghilangkan tindakan-tindakan yang mengarah pada sikap riya'. Misalnya cinta kedudukan atau kehormatan, suka mendapat pujian dari orang lain dan sebagainya; Bekerja sama dalam segala urusan; Mengikuti adab (etika) Islam dalam pergaulan. Dengan demikian, tidak berlebihan dalam memberikan pujian kepada orang lain dan tidak meremehkan orang lain; Berlindung dan memohon pertolongan kepada Allah swt. Barangsiapa berlindung dan memohon pertolongan kepada Allah swt - dan dia berada dalam kebenaran - maka Allah swt akan memantapkan hati dan menolong hamba-Nya; Menyadari bahwa segala sesuatu di alam ini berjalan sesuai dengan takdir Allah swt. Allah swt berfirman, "Tiada sesuatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah." (QS al-Hadid: 22)</p>
	<p>Sesungguhnya makhluk sekuat dan sekuasa apa pun, dia tidak mampu memberi manfaat dan menolak bahaya dari dirinya atau orang lain. Allah swt berfirman, "Sesungguhnya makhluk-makhluk yang kamu seru selain Allah itu adalah hamba-hamba yang serupa dengan kamu. Maka serulah makhluk-makhluk itu dan biarkanlah mereka memperkenankan permintaanmu jika kamu memang orang-orang yang benar." (QS al-A'raf: 19) "Sesungguhnya mereka (Bani Israil) sekali-kali tidak akan dapat menjauhkan (menolak)-mu dari siksaan Allah.." (QS al-Jatsiah: 19)</p>
<p> <small> <a href="http://chandra354.blog.co.uk/2008/02/22/penyakit_hati_riya_aamp_sum_ah~3763116/#comments">Comments</a> </small> </p>]]></content:encoded></default:item><default:item xmlns:default="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" rdf:about="http://chandra354.blog.co.uk/2008/02/15/blue_without_you~3729794/"><default:title>Blue Without You</default:title><default:link>http://chandra354.blog.co.uk/2008/02/15/blue_without_you~3729794/</default:link><dc:date xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">2008-02-15T04:54:06+01:00</dc:date><default:description>	&lt;p&gt;My red heart is blue,&lt;br&gt;
because I'm missing you.&lt;br&gt;
Every day, I think about you,&lt;br&gt;
and I imagine how great&lt;br&gt;
every hour,&lt;br&gt;
every minute,&lt;br&gt;
and every second would be&lt;br&gt;
if you were here with me.&lt;br&gt;
Every night, when I lie in bed,&lt;br&gt;
I dream that you're beside me,&lt;br&gt;
holding me close to you.&lt;br&gt;
If you were, I'd whisper in your ear,&lt;br&gt;
how much I love you.&lt;br&gt;
Since you came into my life&lt;br&gt;
nothing has been the same.&lt;br&gt;
I've experienced love to its fullest,&lt;br&gt;
and I've tasted a beauty that never ends,&lt;br&gt;
because you're where my happiness begins.&lt;br&gt;
I'm incomplete without you, and&lt;br&gt;
I'll never stop loving you.&lt;br&gt;
You're the world to me,&lt;br&gt;
in brilliant colors.&lt;br&gt;
You're my best friend,&lt;br&gt;
a favorite song that will never end.&lt;br&gt;
And together is where we should be.&lt;br&gt;
Someday soon, I pray,&lt;br&gt;
that you'll walk through the door&lt;br&gt;
and take this heartache away.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt; &lt;small&gt; &lt;a href="http://chandra354.blog.co.uk/2008/02/15/blue_without_you~3729794/#comments"&gt;Comments&lt;/a&gt; &lt;/small&gt; &lt;/p&gt;</default:description><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[	<p>My red heart is blue,<br>
because I'm missing you.<br>
Every day, I think about you,<br>
and I imagine how great<br>
every hour,<br>
every minute,<br>
and every second would be<br>
if you were here with me.<br>
Every night, when I lie in bed,<br>
I dream that you're beside me,<br>
holding me close to you.<br>
If you were, I'd whisper in your ear,<br>
how much I love you.<br>
Since you came into my life<br>
nothing has been the same.<br>
I've experienced love to its fullest,<br>
and I've tasted a beauty that never ends,<br>
because you're where my happiness begins.<br>
I'm incomplete without you, and<br>
I'll never stop loving you.<br>
You're the world to me,<br>
in brilliant colors.<br>
You're my best friend,<br>
a favorite song that will never end.<br>
And together is where we should be.<br>
Someday soon, I pray,<br>
that you'll walk through the door<br>
and take this heartache away.</p>
<p> <small> <a href="http://chandra354.blog.co.uk/2008/02/15/blue_without_you~3729794/#comments">Comments</a> </small> </p>]]></content:encoded></default:item><default:item xmlns:default="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" rdf:about="http://chandra354.blog.co.uk/2008/02/14/nafsu~3725743/"><default:title>Nafsu</default:title><default:link>http://chandra354.blog.co.uk/2008/02/14/nafsu~3725743/</default:link><dc:date xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">2008-02-14T10:19:39+01:00</dc:date><default:description>	&lt;p&gt;Nafsu. Organ rohani manusia yang memiliki pengaruh paling banyak dan paling besar di antara anggota rohani lainnya yang mengeluarkan instruksi kepada anggota jasmani untuk melakukan suatu tindakan.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Nafsu secara etimologis berhubungan dengan asal usul "peniupan" dan sering secara silih berganti di pakai dalam literatur bahasa Arab dengan arti "jiwa kehidupan" atau "gairah dan hasrat duniawi", suatu istilah yang sangat banyak di gunakan dalam khazanah kaum sufi. Al-Gazali memeperlihatkan dua bentuk pengertian nafsu tersebut. Satu di antaranya adalan pengertian yang menggabungkan kekuatan amarah dan nafsu di dalam diri manusia. Sebenarnya kedua unsur tersebut mempunyai maksud yang baik, sebab mereka bertanggung jawab atas gejala-gejala jahat di dalam pribadi seseorang, dan sebaliknya bagian yang merusak dari amarah dan nafsu harus di tertibkan dan di batasi tindakannya. Adapun pengertian kedua dari nafsu ialah "kelembutan Ilahi". Dengan demikian nafsu dapat di pahami sebagai keadaan sesungguhnya dari wujud atau perkembangan pada suatu tingkatan tertentu dalam pribadi secara keseluruhan. Ia mengandung arti penjelasan hubungan yang sesungguhnya antara hati dan gairah tubuh, dan dalam keadaan tertentu dari kelembutan Ilahi.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Dalam khazanah tasawuf dikenal adanya proposisi bahwa yang paling dekat denagn seseorang itu adalah dirinya sendiri, dan menginsafi diri sendiri adalah awal dari pengenalan terhadap Allah SWT, sebagai gambaran dari kesempurnaan akhlak seseorang ( man 'arafa nafsahu faqad 'arafa rabbah " barang siapa tahu dirinya maka sesungguhnya telah mengetahui Tuhannya " ). Pada sisi lain manusia itu sendiri terdiri dari dua unsur, yaitu jasmani da rohani, yang di sebut terakhir di lengkapi dengan empat organ, satu di antaranya adalah nafsu, di samping akal, qalbu, dan roh. Nafsu adalah suatu organ yang besar pengaruhnya dalam mengmengeluarkan instruksi kepada jasmani untuk berbuat durhaka atau taqwa, kekuatan yang akan di tuntut pertanggungjawabannya atas perbuatan buruk dan baik, bekerja dan berkehendak, kekuatan yang dapat menerima ajakan naluri rendah hawa nafsu.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;Dalam literur tasawuf, nafsu di kenal memiliki delapan kategori, dari kecenderungan yang paling dekat pada tindakan buruk sampe ketingkat kedekatan kepada kelembutan Ilahi.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;      1.&lt;strong&gt;An- nafsu al-ammarat bi as-su&lt;/strong&gt;, yaitu kekuatan pendorong naluri sejalan dengan nafsu yang cenderung kepada keburukan. Hal ini di tegaskan surah Yusuf ayat 53 ("Dan aku [Nabi Yusuf] tidak melepaskan diri dari tanggung jawab [atas kesalahan] karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh [cenderung] kepada keburukan"). Nafsu pada kategori ini belum mampu membedakan yang baik dan yang buruk, belum memperoleh tuntunan tentang manfaat dan mafsadat ( kerusakan ), semua yang bertentangan dengan keinginannya dianggap musuh, sebaliknya setiap yang sejalandengan kemauannya adalah karibnya. Dalam tindakan nyata dapat terlihat selalu khianat, enggan menerima nasihat dan saran, dan sebaliknya gembira menerima bisikan iblis dan setan yang menunjukkan  jalan buruk dan terkutuk. Terhadap nafsu dalam kategori ini, Allah SWT memperingatkan agar tidak diikuti, sebab ia akan menyesatkan, dan setiap yang sesat akan mendapatkan azab yang berat ( QS. 38:26 ), bahkan mengikuti nafsu ini di gambarkan akan mengakibatkan hancurnya langit dan bumi dengan segala isinya ( QS.23:71 )&lt;br&gt;
      2.&lt;strong&gt;Nafsu Lawwamah&lt;/strong&gt;, yaitu nafsu yang telah mempunyai rasa insyaf dan menyesal sesudah melakukan suatu pelanggaran. Ia tidak berani melakukan pelanggaran secara terang-terangan dan tidak pula mencari secara gelap untuk melakukan sesuatu karena ia telah menyadari akibat-akibat dari perbuatannya. Namun dia belum mampu mengekang nafsu yang membawa kepada perbuatan buruk itu. Oleh karena itu, ia masih selalu dekat kepada pekerjaan yang mufsadat. Kategori nafsu ini denagn segala sifat-sifatnya oleh para sufi didasarkan pada empat firman Allah SWT, masing-masing : surah Al-Qiyamah ayat 1-2: "Aku ( Allah ) bersumpah dengan dengan hari kiamat, dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali ( dirinya sendiri ": demikian juga pada ayat 14-15: "Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri meskipun ia mengemukakan alasan-alasannya." Pada tingkat ini seseorang, jika telah selesai mengerjakan suatu pekerjaan yang buruk, menjadi insyaf dan menyesal, dan seterusnya mengharap agar kejahatannya tidak terulang lagi dan semoga dia memperoleh ampunan. Pada dirinya telah tumbuh bibit pikiran dan kesadaran, bahkan disebut bahwa nafsu inilah yang akan menghadapi perhitungan kelak pada hari kiamat.&lt;br&gt;
     3.&lt;strong&gt;Nafsu Al-Musawalah&lt;/strong&gt;, yaitu nafsu yang telah dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, walaupun baginya mengerjakan yang baik itu sama halnya dengan melakukan yang buruk. Ia melakukan perbuatan buruk meskipun tidak dengan terang-terangan tetapi dilakukannya dengan sembunyi-sembunyi, karena sifat malu telah ada padanya. Namun malu yang muncul itu baru merupakan malu terjadap orang lain, belum atas kesadarannya sendiri.Ia malu kalau orang lain mengetahui keburukannya atau kejahatan yang dilakukannya. Kategori ini masih berada pada posisi dekat dengan keburukan, sebab Allah SWT secara jelas melarang manusia untuk mencampuradukkan  yang hak dengan yang batil ( QS.2:42 ), dan bahwa Allah SWT mengetahui apa yang dirahasiakan dan apa yang dilahirkan, dan mengetahui pula apa saja yang diusahakan hamba-hambanya ( QS.6:3; 2:7 ).&lt;br&gt;
       4.&lt;strong&gt;Nafsu Al-Mutma'innah&lt;/strong&gt;, yaitu nafsu yang telah mendapat tuntunan dan pemeliharaan yang baik. Ia mendatangkan ketentraman jiwa, melahirkan sikap dan perbuatan yang baik, mampu membentengi serangan kekejian dan kejahatan, dan mampu memukul mundur segala kendala dan godaan yang mengganggu ketentraman jiwa, bahkan ketenangan jasmaniah terutama dengan dzikir kepa Allah SWT. Ia berfungsi mendorong melakukan kebajikan dan mencegah berbuat kejahatan. Posisi nafsu ini secara jelas digambarkan Allah SWT dalam surah Ar-Ra'd ayat 28 dan 29: "(yaitu) orang-orang yan beriman dan hati mereka menjadi tenteram ( tatma'inn ) dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram" ( ayat 28 ). "Orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembaki yang baik" ( ayat 29 ). Nafsu di sini telah mapan dan tidak terganggu lagi oleh gairah, sehingga dapat secara khusyuk memenuhi keyakinannya.&lt;br&gt;
      5. &lt;strong&gt;Nafsu Mulhamah&lt;/strong&gt;, yaitu nafsu yang memperoleh ilham dari Allah SWT, dikaruniai ilmu pengetahuan.Ia telah di hiasi akhlaq mahmudah ( akhlak yang terpuji ), dan ia merupakan sumber kesabaran, ketabahan dan keuletan. Pada tingkat ini  nafsu itu telah terbuka kepada berbagai petunjuk ( ilham ) dari Allah SWT. Dengan itu pula seseorang telah memiliki sifat-sifat yang menunjukkan kepribadian yang kuat, sebagaimana yang ditegaskan Allah SWT dalam surah as-Syams ayat 7-10: " dan jiwa serta penyempurnaannya ( ciptaannya ), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu ( jalan ) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya."&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;      6. &lt;strong&gt;Nafsu Radiyah&lt;/strong&gt;. yaitu nafsu yang ridha kepada Allah SWT, yang mempunyai peran yang penting dalam mewujudkan kesejahteraan. Nafsu ini dalam realisasinya sering kali muncul dalam bentuk tindakan-tindakan, misalnya ia selalu mensyukuri nikmat Allah SWT, sebab Allah SWT menjanjikan tambahan nikmat bagi mereka yang bersyukur kepada nikmat-nikmat Allah SWT, dan sebaliknya akan di beri azab mereka yang tidak mensyukuri nikmat itu ( QS.14:7 ). Nafsu ini akan menjadikan seseorang ridha dalam melaksanakan segala perintah Allah SWT, dan secara ikhlas pula menjahui segala larangannya, secara senantiasa kanaah atau merasa cukup/ memadai pemberian Allah SWT.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;       7. &lt;strong&gt;Nafsu Mardiyah&lt;/strong&gt;, yaitu nafsu yang mencapai ridha Allah SWT. Keridhaan tersebut terlihat pada anugrah yang diberikan-Nya berupa senantiasa berdzikir, ikhlas, mempunyai karomah, dan memperoleh kemuliaan, sementara kemuliaan yang diberikan Allah SWT itu bersifat universal, artinya jika TUhan memuliakannya, siapa pun tidak akan bisa menghinakannya, demikian pula sebaliknya oramg yang dihinakan oleh Allah SWT, siapa pun tidak bisa memuliakannya.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;        Dua nafsu tersebut terakhir, yakni nafsu radiyah dan mardiyah, oleh para sufi didasarkan pada firman Allah SWT dalam surah al-Fajr ayat 27-28 : " Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada TUhanmu dengan hati yang puas lagi di ridhai-Nya." Hamba yang di ridhai akan di masukkan kedalam surga-Nya.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;        8. &lt;strong&gt;Nafsu Kamilah&lt;/strong&gt;, yaitu nafsu yang telah sempurna bentuk dan dasarnya, sudah dianggap cakap untuk mengerjakan irsyad ( petunjuk ) dan menyempurnakan penghambaan kepada Allah SWT. Orangnya dapat di sebut sebagai *mursyid dan mukammil ( orang yang menyempurnakan ) atau * insan kamil, yang dalam pengalaman para sufi telah tercapai tajjali ( terbuka, tak bertabir ), asma' wa as-sifat ( nama dan sifat ), baqa'billah ( berada bersama Allah ), fana fillah ( hancur dalam Allah ), ilmunya ilmu ladunni minallah ( ilmu anugrah Allah ).&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;        Dengan demikian nafsu sebagai unsur rohani manusia pada tingkat tertentu dapat diarahkan kepada perbuatan baik dan pada tingkat tertentu pula manusia bisa dirongrong dan di goda hawa nafsu sehingga terseret ke lembah kehinaan. Jika telah demikian, hawa nafsu telah merajalela dan mengganas, menjerumuskan manusia ke tempat yang hina, tempat yang paling rendah, yang Allah SWT telah janjikan akan mengembalikan manusia ke tempat seperti itu.&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;        Demikianlah sikap Islam terhadap nafsu itu, sebagaimana di fahami para sufi yakni mengembangkan sifat baik dan memberi peringatan kepada nafsu yang buruk bahkan mengusahakan untuk tidak memanjakannya dalam menjalani latihan-latihan yang keras untuk menundukkannya. Orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya ( QS.79:40,41 ). Para pecinta akhlak dan tasawuf menyebut bahwa jihad paling besar adalah jihad melawan nafsu ( hawa nafsu ).&lt;/p&gt;
	&lt;p&gt;&lt;img src="http://i110.photobucket.com/albums/n96/cas_025/CAS.jpg" alt="cas" title="cas"&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt; &lt;small&gt; &lt;a href="http://chandra354.blog.co.uk/2008/02/14/nafsu~3725743/#comments"&gt;Comments&lt;/a&gt; &lt;/small&gt; &lt;/p&gt;</default:description><content:encoded xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><![CDATA[	<p>Nafsu. Organ rohani manusia yang memiliki pengaruh paling banyak dan paling besar di antara anggota rohani lainnya yang mengeluarkan instruksi kepada anggota jasmani untuk melakukan suatu tindakan.</p>
	<p>Nafsu secara etimologis berhubungan dengan asal usul "peniupan" dan sering secara silih berganti di pakai dalam literatur bahasa Arab dengan arti "jiwa kehidupan" atau "gairah dan hasrat duniawi", suatu istilah yang sangat banyak di gunakan dalam khazanah kaum sufi. Al-Gazali memeperlihatkan dua bentuk pengertian nafsu tersebut. Satu di antaranya adalan pengertian yang menggabungkan kekuatan amarah dan nafsu di dalam diri manusia. Sebenarnya kedua unsur tersebut mempunyai maksud yang baik, sebab mereka bertanggung jawab atas gejala-gejala jahat di dalam pribadi seseorang, dan sebaliknya bagian yang merusak dari amarah dan nafsu harus di tertibkan dan di batasi tindakannya. Adapun pengertian kedua dari nafsu ialah "kelembutan Ilahi". Dengan demikian nafsu dapat di pahami sebagai keadaan sesungguhnya dari wujud atau perkembangan pada suatu tingkatan tertentu dalam pribadi secara keseluruhan. Ia mengandung arti penjelasan hubungan yang sesungguhnya antara hati dan gairah tubuh, dan dalam keadaan tertentu dari kelembutan Ilahi.</p>
	<p>Dalam khazanah tasawuf dikenal adanya proposisi bahwa yang paling dekat denagn seseorang itu adalah dirinya sendiri, dan menginsafi diri sendiri adalah awal dari pengenalan terhadap Allah SWT, sebagai gambaran dari kesempurnaan akhlak seseorang ( man 'arafa nafsahu faqad 'arafa rabbah " barang siapa tahu dirinya maka sesungguhnya telah mengetahui Tuhannya " ). Pada sisi lain manusia itu sendiri terdiri dari dua unsur, yaitu jasmani da rohani, yang di sebut terakhir di lengkapi dengan empat organ, satu di antaranya adalah nafsu, di samping akal, qalbu, dan roh. Nafsu adalah suatu organ yang besar pengaruhnya dalam mengmengeluarkan instruksi kepada jasmani untuk berbuat durhaka atau taqwa, kekuatan yang akan di tuntut pertanggungjawabannya atas perbuatan buruk dan baik, bekerja dan berkehendak, kekuatan yang dapat menerima ajakan naluri rendah hawa nafsu.</p>
	<p>Dalam literur tasawuf, nafsu di kenal memiliki delapan kategori, dari kecenderungan yang paling dekat pada tindakan buruk sampe ketingkat kedekatan kepada kelembutan Ilahi.</p>
	<p>      1.<strong>An- nafsu al-ammarat bi as-su</strong>, yaitu kekuatan pendorong naluri sejalan dengan nafsu yang cenderung kepada keburukan. Hal ini di tegaskan surah Yusuf ayat 53 ("Dan aku [Nabi Yusuf] tidak melepaskan diri dari tanggung jawab [atas kesalahan] karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh [cenderung] kepada keburukan"). Nafsu pada kategori ini belum mampu membedakan yang baik dan yang buruk, belum memperoleh tuntunan tentang manfaat dan mafsadat ( kerusakan ), semua yang bertentangan dengan keinginannya dianggap musuh, sebaliknya setiap yang sejalandengan kemauannya adalah karibnya. Dalam tindakan nyata dapat terlihat selalu khianat, enggan menerima nasihat dan saran, dan sebaliknya gembira menerima bisikan iblis dan setan yang menunjukkan  jalan buruk dan terkutuk. Terhadap nafsu dalam kategori ini, Allah SWT memperingatkan agar tidak diikuti, sebab ia akan menyesatkan, dan setiap yang sesat akan mendapatkan azab yang berat ( QS. 38:26 ), bahkan mengikuti nafsu ini di gambarkan akan mengakibatkan hancurnya langit dan bumi dengan segala isinya ( QS.23:71 )<br>
      2.<strong>Nafsu Lawwamah</strong>, yaitu nafsu yang telah mempunyai rasa insyaf dan menyesal sesudah melakukan suatu pelanggaran. Ia tidak berani melakukan pelanggaran secara terang-terangan dan tidak pula mencari secara gelap untuk melakukan sesuatu karena ia telah menyadari akibat-akibat dari perbuatannya. Namun dia belum mampu mengekang nafsu yang membawa kepada perbuatan buruk itu. Oleh karena itu, ia masih selalu dekat kepada pekerjaan yang mufsadat. Kategori nafsu ini denagn segala sifat-sifatnya oleh para sufi didasarkan pada empat firman Allah SWT, masing-masing : surah Al-Qiyamah ayat 1-2: "Aku ( Allah ) bersumpah dengan dengan hari kiamat, dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali ( dirinya sendiri ": demikian juga pada ayat 14-15: "Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri meskipun ia mengemukakan alasan-alasannya." Pada tingkat ini seseorang, jika telah selesai mengerjakan suatu pekerjaan yang buruk, menjadi insyaf dan menyesal, dan seterusnya mengharap agar kejahatannya tidak terulang lagi dan semoga dia memperoleh ampunan. Pada dirinya telah tumbuh bibit pikiran dan kesadaran, bahkan disebut bahwa nafsu inilah yang akan menghadapi perhitungan kelak pada hari kiamat.<br>
     3.<strong>Nafsu Al-Musawalah</strong>, yaitu nafsu yang telah dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, walaupun baginya mengerjakan yang baik itu sama halnya dengan melakukan yang buruk. Ia melakukan perbuatan buruk meskipun tidak dengan terang-terangan tetapi dilakukannya dengan sembunyi-sembunyi, karena sifat malu telah ada padanya. Namun malu yang muncul itu baru merupakan malu terjadap orang lain, belum atas kesadarannya sendiri.Ia malu kalau orang lain mengetahui keburukannya atau kejahatan yang dilakukannya. Kategori ini masih berada pada posisi dekat dengan keburukan, sebab Allah SWT secara jelas melarang manusia untuk mencampuradukkan  yang hak dengan yang batil ( QS.2:42 ), dan bahwa Allah SWT mengetahui apa yang dirahasiakan dan apa yang dilahirkan, dan mengetahui pula apa saja yang diusahakan hamba-hambanya ( QS.6:3; 2:7 ).<br>
       4.<strong>Nafsu Al-Mutma'innah</strong>, yaitu nafsu yang telah mendapat tuntunan dan pemeliharaan yang baik. Ia mendatangkan ketentraman jiwa, melahirkan sikap dan perbuatan yang baik, mampu membentengi serangan kekejian dan kejahatan, dan mampu memukul mundur segala kendala dan godaan yang mengganggu ketentraman jiwa, bahkan ketenangan jasmaniah terutama dengan dzikir kepa Allah SWT. Ia berfungsi mendorong melakukan kebajikan dan mencegah berbuat kejahatan. Posisi nafsu ini secara jelas digambarkan Allah SWT dalam surah Ar-Ra'd ayat 28 dan 29: "(yaitu) orang-orang yan beriman dan hati mereka menjadi tenteram ( tatma'inn ) dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram" ( ayat 28 ). "Orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembaki yang baik" ( ayat 29 ). Nafsu di sini telah mapan dan tidak terganggu lagi oleh gairah, sehingga dapat secara khusyuk memenuhi keyakinannya.<br>
      5. <strong>Nafsu Mulhamah</strong>, yaitu nafsu yang memperoleh ilham dari Allah SWT, dikaruniai ilmu pengetahuan.Ia telah di hiasi akhlaq mahmudah ( akhlak yang terpuji ), dan ia merupakan sumber kesabaran, ketabahan dan keuletan. Pada tingkat ini  nafsu itu telah terbuka kepada berbagai petunjuk ( ilham ) dari Allah SWT. Dengan itu pula seseorang telah memiliki sifat-sifat yang menunjukkan kepribadian yang kuat, sebagaimana yang ditegaskan Allah SWT dalam surah as-Syams ayat 7-10: " dan jiwa serta penyempurnaannya ( ciptaannya ), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu ( jalan ) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya."</p>
	<p>      6. <strong>Nafsu Radiyah</strong>. yaitu nafsu yang ridha kepada Allah SWT, yang mempunyai peran yang penting dalam mewujudkan kesejahteraan. Nafsu ini dalam realisasinya sering kali muncul dalam bentuk tindakan-tindakan, misalnya ia selalu mensyukuri nikmat Allah SWT, sebab Allah SWT menjanjikan tambahan nikmat bagi mereka yang bersyukur kepada nikmat-nikmat Allah SWT, dan sebaliknya akan di beri azab mereka yang tidak mensyukuri nikmat itu ( QS.14:7 ). Nafsu ini akan menjadikan seseorang ridha dalam melaksanakan segala perintah Allah SWT, dan secara ikhlas pula menjahui segala larangannya, secara senantiasa kanaah atau merasa cukup/ memadai pemberian Allah SWT.</p>
	<p>       7. <strong>Nafsu Mardiyah</strong>, yaitu nafsu yang mencapai ridha Allah SWT. Keridhaan tersebut terlihat pada anugrah yang diberikan-Nya berupa senantiasa berdzikir, ikhlas, mempunyai karomah, dan memperoleh kemuliaan, sementara kemuliaan yang diberikan Allah SWT itu bersifat universal, artinya jika TUhan memuliakannya, siapa pun tidak akan bisa menghinakannya, demikian pula sebaliknya oramg yang dihinakan oleh Allah SWT, siapa pun tidak bisa memuliakannya.</p>
	<p>        Dua nafsu tersebut terakhir, yakni nafsu radiyah dan mardiyah, oleh para sufi didasarkan pada firman Allah SWT dalam surah al-Fajr ayat 27-28 : " Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada TUhanmu dengan hati yang puas lagi di ridhai-Nya." Hamba yang di ridhai akan di masukkan kedalam surga-Nya.</p>
	<p>        8. <strong>Nafsu Kamilah</strong>, yaitu nafsu yang telah sempurna bentuk dan dasarnya, sudah dianggap cakap untuk mengerjakan irsyad ( petunjuk ) dan menyempurnakan penghambaan kepada Allah SWT. Orangnya dapat di sebut sebagai *mursyid dan mukammil ( orang yang menyempurnakan ) atau * insan kamil, yang dalam pengalaman para sufi telah tercapai tajjali ( terbuka, tak bertabir ), asma' wa as-sifat ( nama dan sifat ), baqa'billah ( berada bersama Allah ), fana fillah ( hancur dalam Allah ), ilmunya ilmu ladunni minallah ( ilmu anugrah Allah ).</p>
	<p>        Dengan demikian nafsu sebagai unsur rohani manusia pada tingkat tertentu dapat diarahkan kepada perbuatan baik dan pada tingkat tertentu pula manusia bisa dirongrong dan di goda hawa nafsu sehingga terseret ke lembah kehinaan. Jika telah demikian, hawa nafsu telah merajalela dan mengganas, menjerumuskan manusia ke tempat yang hina, tempat yang paling rendah, yang Allah SWT telah janjikan akan mengembalikan manusia ke tempat seperti itu.</p>
	<p>        Demikianlah sikap Islam terhadap nafsu itu, sebagaimana di fahami para sufi yakni mengembangkan sifat baik dan memberi peringatan kepada nafsu yang buruk bahkan mengusahakan untuk tidak memanjakannya dalam menjalani latihan-latihan yang keras untuk menundukkannya. Orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya ( QS.79:40,41 ). Para pecinta akhlak dan tasawuf menyebut bahwa jihad paling besar adalah jihad melawan nafsu ( hawa nafsu ).</p>
	<p><img src="http://i110.photobucket.com/albums/n96/cas_025/CAS.jpg" alt="cas" title="cas"></p>
<p> <small> <a href="http://chandra354.blog.co.uk/2008/02/14/nafsu~3725743/#comments">Comments</a> </small> </p>]]></content:encoded></default:item></rdf:RDF>
